Jatuh dari Langit

Diterjemahkan dari bahasa Spanyol ke Inggris oleh Miranda Stramel.

Di antara banyak gol yang membekas di ingatan, ada satu yang lumayan, satu yang bagus, satu yang mengagumkan, dan satu yang supernatural (sulit dijelaskan dengan kata—magis). Yang terakhir disebutkan, terkesan seperti untung-untungan, improvisasi, dan tak terduga. Gol dari situasi bola mati tak akan masuk kategori ini. Juga tak berlaku buat gol yang sengaja dirancang, yang dibangun saat permainan, atau katakanlah saat seorang pemain dan para pemain lainnya yang mengoper dengan kepala lalu menyarangkannya ke gawang dengan ditendang atau disundul. Gol supernatural bagaikan sebuah hadiah yang tak terpikirkan. Tapi, tidak dalam kata-kata seperti, “hadiah cuma-cuma dari tim lawan”, atau kesalahan dan blunder yang menguntungkan salah satunya, tapi dalam kata yang lebih menakjubkan: seperti jatuh dari langit.

Gol Zidane ini sangat mengagumkan karena terjadi di final Liga Champions Eropa, sebagai pemanis menjadi juara, mempunyai kesulitan sekaligus keindahan yang luar biasa, dan membuatnya menjadi bintang utama, bukan pemain biasa. Tapi, gol itu tak akan menjadi supernatural jika bisa diduga oleh semua orang, termasuk Zidane, lalu seketika menjadi gol.

Real Madrid menarik satu pemainnya dari pertandingan. Dari pergantian hingga gol voli Zidane tersebut, pemain Madrid melakukan 14 kali sentuhan, rata-rata adalah penguasaan bola, yang mana mereka saat itu tak mendapat banyak kontak fisik hingga saat terjadi gol itu, hingga babak pertama.

Komentator teve Spanyol mengocehkan hal-hal lain, tak terlalu menghiraukan ke mana bola bergulir, tidak menerangkan jalannya pertandingan. Michel sang legenda Real Madrid, yang juga jadi komentator saat itu (yang lebih bijak dan cepat tanggap ketimbang rekannya yang membosankan, yang pikirannya tak jelas dan selalu di awang-awang) melihat operan dari Santiago Solari. “Bagus,” dia menarik perhatian. Operan tersebut adalah upaya serangan pertama, tak langsung ke area gawang, tapi ke ruang terbuka. Roberto Carlos lari mengejar, menerima bola, lalu mengumpannya langsung ke area tengah kotak penalti buat melihat apa yang akan terjadi, nyaris terjerembab, ia lebih khawatir bolanya direbut oleh pemain yang membayanginya sehingga memilih tidak melakukan kerjasama tim. Operannya tersebut ternyata dilepaskan dengan tidak sengaja. Bola melambung begitu tinggi bagai balon, bak bola sapuan pemain bertahan.

Tak pernah terpikir oleh siapapun jika hal ini bakal berakhir menjadi gol, tidak juga kiper dan para pemain bertahan Bayer Leverkusen, yang khawatir pun tak sempat. Dan tidak juga bagi Roberto Carlos, atau bahkan Zidane. Dia, Zidane, seperti yang saya bilang, tak menengok ke bola tersebut. Dia juga tak ke tempat di mana ia mengantisipasi jatuhnya bola tersebut. Tidak. Dia hanya mengitari tepian kotak penalti.

Dan saat bola umpan sapuan tersebut melambung makin tinggi menjulang, ide untuk sebuah gol masih belum ada di pikirannya. Kapan hal itu muncul? Kapan hal itu menjadi terpikirkan? Tepat saat bola berhenti terbang melayang di udara. Saat itulah Zidane, yang tahu gravitasi dan kecepatan, paham bahwa tak ada rute lain di udara selain bola meluncur jatuh ke lapangan. Dan dia melihat bahwa bola tersebut akan jatuh tepat di tempat ia berdiri.

Baru saat itulah terpikir olehnya, lalu kemudian ia putuskan (jika ini menjadi kata kerja terakhir yang bisa dipakai pada apa yang tak pernah direnungkan—baik oleh pemain-pemain Leverkusen atau para Madridista). Saat itulah Zidane memahami peluang, improvisasi, dan hal alamiah tak terduga dari bola: kekuatan supernatural, sebuah berkah yang jatuh dari langit.

Zidane kemudian mengerjakan sisanya.

Pada waktu itu pula tampaknya Zidane juga telah jatuh dari langit. Saat itulah ia menyadari hal tersebut, berkah tersebut menjadi darah daging, lalu perwujudan kata kerja.[]

Tentang Penulis

Javier Marias, lahir di Madrid 20 September 1951. Seorang penulis, novelis, penerjemah, kolumnis yang ketersohorannya setara dengan selebritis di Spanyol. Sering disebut sebagai salah satu penulis terbesar dari Spanyol, hingga saat ini ia masih sering disebut sebagai kandidat kuat peraih Nobel Sastra. Ayahnya, Julian Marias, adalah seorang filsuf dan pengajar yang bolak-balik dipenjarakan dan dilarang untuk mengajar karena resistensinya terhadap kediktatoran Franco. Marias telah melahirkan karya-karya monumental macam trilogi Your Face Of Tomorrow, All Souls, A Heart So White, Bad Nature, or With Elvis in Mexico. Marias juga dikenal sebagai seorang Madridista dan pecinta bola, bahkan ia pernah menerbitkan satu buku yang berisi tulisannya mengenai sepakbola berjudul Salvajes y sentimentales: Letras de fútbol.

 

(Visited 75 times, 1 visits today)

Milanisti abal-abal. Mahasiswa sastra Inggris UAD.

Post a Comment

You don't have permission to register