Gerakan Hijau dari Lapangan Hijau

Saat ini, banyak orang mulai sadar dan gencar menerapkan gaya hidup ramah lingkungan. Orang-orang menerapkannya dalam keseharian, mulai dari mengendarai mobil ramah lingkungan hingga menyedot sedotan berbahan stainless steel demi mengurangi sampah plastik. Apakah hal ini juga marak dilakukan di dunia sepakbola?

Tak bisa dimungkiri, industri sepakbola masih termasuk yang paling boros dalam penggunaan energi. Mulai dari pengunaan air untuk rumput yang mana juga kerap menggunakan pestisida dalam perawatannya,  penggunaan listrik untuk lampu-lampu stadion, hingga penggunaan kendaraan yang menghasilkan energi karbon.

Tapi, seiring berjalannya waktu, banyak klub mulai menerapkan gaya ramah lingkungan dalam pengelolaan tim.Mulai dari meminimalisir penggunaan karbon yang berlebih, jersi yang menggunakan bahan daur ulang, menyediakan makanan berbahan dasar tumbuhan, hingga menggunakan sumber daya energi yang lebih ramah lingkungan.

Salah satu perusahaan teknologi asal London, membuat terobosan dalam menghasilkan energi listrik untuk menerangi sebuah lapangan di Kota Rio de Janiero, Brasil. Morro de Mineira adalah lapangan sepakbola pertama di Brazil yang menggunakan tenaga kinetik untuk menerangi lapangan yang terletak di tengah permukiman padat penduduk.

Setiap injakan kaki-kaki pemain ke ubin lapangan itu akan menghasilkan daya untuk menerangi lapangan.

Stadion yang menjadi saksi pahit Tim Nasional Brasil kalah 1-7 dari Jerman di semifinal Piala Dunia 2014, Estadio Minerao, juga menggunakan panel surya untuk menerangi stadion. Daya  yang dihasilkan dari panel itu dapat menerangi seribu rumah per tahunnya.

Dibangun ulang pada tahun 2012 dengan biaya 3.5 juta dolar Amerika Serikat, stadion yang terletak di Kota Belo Horizonte itu menjadi stadion besar pertama di Brasil yang menggunakan tenaga surya.

Di Eropa sendiri, beberapa klub di liga tingkat teratas Jerman dan Inggris sudah mulai menerapkan gaya ramah lingkungan dalam pengelolaannya.

Di Bundesliga Jerman, Freiburg, Werder Bremen dan Mainz, merupakan klub yang memproduksi bahan makanan sendiri. Werder Bremen bahkan menganjurkan para suporternya untuk tidak menggunakan mobil pribadi saat ke stadion. Para suporter dianjurkan menggunakan kapal feri menuju stadion. Weserstadion, markas Bremen, merupakan satu-satunya stadion di Jerman yang bisa diakses menggunakan feri.

Sedangkan di Inggris, tim pertama yang menerapkan gaya ramah lingkungan bukanlah tim besar seperti Liverpool, Manchester United, atau Arsenal.

Forest Green Rovers, tim yang bermain di kompetisi divisi bawah Inggris, merupakan yang pertama menerapkan pengelolaan ramah lingkungan terhadap klubnya. Berlokasi di selatan Inggris, klub ini mulai menerapkan gaya ramah lingkungan pada tahun 2010 setelah kepemilikan klub diakuisisi seorang industrialis energi hijau, Dale Vince.

Stadion yang dibangun dari bahan ramah lingkungan, menyediakan makanan berbasis tumbuhan untuk menggantikan asupan daging, sampai menyediakan tempat mengisi bahan bakar mobil elektrik. Forest Green Rovers telah menjadi pionir bagi tim-tim besar yang perlahan sudah mulai melirik penggunaan energi hijau dalam pengelolaan klub.

Di ranah tekstil, perusahaan apparel seperti Adidas dan Nike berlomba menciptakan jersi yang nyaman dengan bahan ramah lingkungan. Kedua apparel menggabungkan teknologi terkini dengan bahan daur ulang  atau bahan yang tidak mencemari lingkungan.

Sepakbola sedang berlari menuju hijau. Apa yang dilakukan Forest Green Rovers di Inggris dan Freiburg di Jerman, telah menginspirasi klub-klub lainnya untuk beralih kepada pengelolaan klub yang lebih ramah dengan lingkungan.[]

(Visited 38 times, 1 visits today)

Hidup itu harus menganut prinsip gudetama, penganut kaum rebahan yang apatis

Post a Comment

You don't have permission to register