Harapan Menjanjikan dalam Racikan Shin Tae-yong

Tim Nasional Indonesia memulai kiprah di U-19 Friendly Tournament dengan bertanding melawan Bulgaria, Sabtu, 5 September 2020.

Sayangnya, Timnas Indonesia gagal mengawali kiprahnya dengan manis. Garuda Muda dikalahkan Bulgaria dengan skor 3-0.

Tapi, terlepas dari kekalahan itu, saya menilai racikan Shin Tae-yong cukup menjanjikan bagi masa depan Timnas Indonesia U-19. Apalagi Garuda Muda akan berlaga di Piala AFC U-19 dan Piala Dunia U-20 tahun 2021 mendatang.

Shin Tae-yong menggunakan formasi 4–4–2  di laga kontra Bulgaria. Posisi penjaga gawang diisi Adi Satryoo, kuartet pemain belakang ada Bayu Fikri, Yudha Febrian, Komang Tri, Rizki Ridho.

Lini tengah diisi oleh David Maulana, Komang Teguh, Witan dan Andi Irfan. Barisan penyerangan diisi oleh duet Irfan Jauhari dan Saddam Ghafar.  Sebelumnya, Irfan dan Saddam pernah berudet di tim Popwil Jateng.

Sebelum pertandingan, Shin Tae-yong sudah mengamati bahwa Timnas Bulgaria merupakan tim yang kuat secara fisik dan bermain menyerang.

Struktur pertahanan Indonesia terlihat cukup rapi di laga ini. Compact defense dan blok pressing rendah yang diinstruksikan oleh Shin Tae-yong, mampu dijalankan dengan sangat baik oleh para pemain. Hal ini terlihat dari para pemain Bulgaria yang cukup kesulitan menembus barisan pertahanan Indonesia.

Ketika kehilangan bola, Timnas Indonesia tidak melakukan pressing tinggi. Namun, lebih menguatkan sistem unit defensif. Hal ini juga berdampak terhadap sulitnya lini tengah Bulgaria menembus pertahanan Indonesia.

Bulgaria mencoba memainkan bola melintasi lebar lapangan mencari cara untuk masuk ke unit yang lebih disiplin dan terorganisir dari Indonesia.

Bulgaria masuk ke unit yang lebih disiplin dan terorganisir dari Indonesia. Saat Bulgaria memainkan bola melintasi lebar lapangan mencari rute untuk menembus unit defensif yang kita lihat, Indonesia mampu mempertahankan blok defensifnya yang dalam.

Indonesia mereka akan coba untuk overload / memenuhkan kotak penalti dengan 4–5 pemain dengan fullback membantu hingga wilayah sepertiga lawan.

Saat Indonesia menyerang, pemain indonesia terlalu statis. Formasi 1–4–2 memaksa pemain hanya menguasai bola di belakang, tanpa ada progresi ke depan. Fullback  kiri dan kanan jarang sekali melakukan overlap  ke depan. Hal itu membuat pemain sayap indonesia kerap gagal masuk ke area half-space lawan.

Terlepas dari itu semua, secara keseluruhan permainan indonesia cukup memuaskan. Sistem pertahanan kompak. Ada pun hal yang masih jadi pekerjaan rumah bagi pelatih adalah masalah fisik dan konsentrasi pemain.

Shin Tae-yong tiba di Indonesia dengan keadaan Timnas Indonesia yang sedang kacau. Sebagai pelatih, ia perlu waktu untuk menanamkan filosofi dan konsistensi di Timnas Indonesia.

Pengamat sepakbola Indonesia Mohamad Kusnaeni mengatakan, kekalahan dari Bulgaria dan Kroasia justru harus dilihat sebagai hal yang positif.

“Kalau mau aman, Shin Tae-yong akan memilih TC di Jakarta dan melakukan uji tanding lawan tim-tim lokal. Hasilnya kemungkinan besar akan selalu menang dan panen pujian. Tapi apa manfaatnya bagi proses pembentukan tim? Kita jadi terlena dan di Piala Dunia nanti mungkin malah babak belur,” sebutnya.

Jika Shin Tae-yong  bisa mengolah dan memaksimalkan tim muda Indonesia, maka ia akan diapresiasi oleh pencinta sepakbola Indonesia. Saya sebagai bagian darinya tentu ikut menunggu momen itu.[]

(Visited 85 times, 1 visits today)
Post a Comment

You don't have permission to register