Bobby Gillespie dan Suporter Celtic Menyemai Asa di Palestina

Bobby Gillespie masih ingat saat Celtic menjadi kampiun Piala Skotlandia usai mengalahkan Rangers dengan skor 1-0 pada 10 Mei 1980. Gillespie ada di antara para suporter Celtic yang larut dalam euforia dan mengerumuni para pemain hingga trofi juara tenggelam dalam kerumunan.

Namun, euforia itu hanya berlangsung singkat karena para suporter Rangers, yang berang usai timnya kalah, menyerang mereka hingga kedua suporter terlibat bentrok. Gillespie bergegas menepi dan memilih merunduk di pinggir lapangan sambil menunggu bentrokan reda dan mencari jalan untuk pulang.

Bagi Gillespie, kericuhan itu bagai perang antargeng yang tidak pernah diinginkannya. Sebagaimana pengakuannya, ia adalah seorang pencinta damai dan tidak ingin bermusuhan dengan siapa pun. Ia hanya ingin memainkan rock n roll dan mengajak semua orang agar dapat berkawan.

Bobby Gillespie adalah vokalis band rock asal Glasgow, Primal Scream. Selain giat mendukung Celtic, ia juga giat mendukung perjuangan Palestina.

Imajinasi sepakbola damai Gillespie sesungguhnya adalah pemandangan yang lumrah di hampir seluruh penjuru dunia. Tapi, pemandangan demikian tidak akan bisa didapatkannya jika berkunjung ke Kamp Pengungsi Aida yang terletak di Tepi Barat, Palestina.

Kamp Pengungsi Aida adalah garis terdepan ekspansi serangan Israel.  Kamp seluas 7000 meter ini menjadi rumah bagi 6000 pengungsi. Tentara Israel, selain mengurung Gaza, juga hampir setiap hari melakukan penyerangan dan secara ilegal merampas sebagian wilayah Tepi Barat yang tersisa sejak 1967. Pada 2017, wilayah ini dijuluki sebagai ladang gas air mata terbesar di muka bumi oleh Universitas California, Berkeley.

Kamp ini dipisahkan benteng yang mengasingkan anak-anak Palestina dari lapangan terbuka yang biasa mereka gunakan untuk bermain. Kamp ini juga dikelilingi pemukiman ilegal di bawah naungan hukum internasional yang dibuat Israel untuk menghubungkan dan mengekspansi teritori di sekitar Jerusalem. Bahkan, ruangan di dalam gedung (indoor) yang menjadi tempat anak-anak belajar, bermain, dan mendapatkan pendidikan semuanya diawasi oleh tentara.

Salah satu pelarian para anak muda Palestina adalah sepakbola, meskipun sangat berisiko mendapatkan serangan dari tentara Israel saat memainkannya. Kamp Aida bukan tempat ideal untuk menggelar permainan sepakbola. Pertandingan dan setiap gerak para pemain akan diawasi oleh para tentara dari menara pengawas setinggi delapan kaki yang tersebar di tiga area lapangan.

Koneksi Kuat Celtic dan Palestina
Pada Agustus 2016, Celtic bermain melawan tim Israel, Hapoel Be’er Sheva dalam gelaran kualifikasi Liga Champions. Sebelum laga dilangsungkan, mengingat laga ini melibatkan klub asal Israel, UEFA memperingatkan bahwa setiap suporter yang menampilkan atribut dan simbol politik dalam pertandingan akan mendapatkan hukuman.

Namun, peringatan UEFA tak membuat suporter Celtic gentar. Dipimpin oleh Green Brigade yang merupakan ultras sayap kiri Celtic, aksi solidaritas dengan mengibarkan ribuan bendera Palestina pun dilakukan. Konsekuensinya, klub mendapatkan denda dari UEFA dan para suporter rela mengumpulkan donasi untuk membayar denda tersebut.

Selain menunjukkan dukungan untuk Palestina pada setiap pertandingan di stadion, Celtic juga menunjukkan dukungannya dengan melakukan kerja inisiatif melalui Lajee Centre, organisasi yang menjadi pusat kreatif dan kebudayaan anak-anak muda di Kamp Pengungsian Aida, Palestina. Hasilnya, terbentuklah klub bernama Aida Celtic, sebuah tim sepakbola Timur Tengah yang terkoneksi kuat dengan Celtic.

“Proyek ini lahir dari aksi solidaritas yang terhimpun dari dukungan global. Dari pertandingan sepakbola di Glasgow menjadi formasi tim di Bethlehem. Kami menginginkan inisiatif akar rumput untuk memiliki warisan yang kuat,” ujar Mathhew Yousif, salah satu penggerak organisasi.

Mohammed Alazza, kordinator Lajee Centre, menjelaskan bahwa tim-tim di Gaza, terutama di Tepi Barat dan Palestina tahun 1948, semua bermain di liga yang berbeda-beda.

“Komunitas sepakbola Palestina sangat terdampak oleh pendudukan tentara Israel melalui politik segregasi dan pengkotak-kotakan,” ucapnya. “Kemunculan Aida Celtic adalah jalan untuk membangun kesadaran dan relasi ini mengukuhkan dukungan bagi rakyat Palestina dari para suporter sepakbola, tidak hanya di Skotlandia dan Irlandia, tapi juga dari seluruh penjuru dunia.”

Kuatnya dukungan Celtic terhadap Palestina ini dapat dilacak faktor penyebabnya  dari sejarah panjang kelahiran tim Celtic itu sendiri.

Celtic lahir dari kelompok Katolik Irlandia yang dipinggirkan dan “tertindas”. Namun melalui Celtic, yang mencatatkan sejarah sebagai tim pertama perserikatan Inggris yang memenangi trofi Liga Eropa pada tahun 1967, kelompok minoritas ini mampu menunjukkan eksistensinya. Pengalaman sebagai masyarakat tertindas itulah yang meluapkan empati tak putus terutama bagi rakyat Palestina yang masih mengalami pendudukan hingga hari ini.

Bahkan menurut Gillespie, koneksi Glasgow-Palestina ini juga lahir berkat tradisi panjang masyarakat Glasgow tentang solidaritas.

“Masyarakat Glasgow memiliki tradisi panjang dan membanggakan solidaritas bagi orang-orang tertindas dan perjuangan antikolonialisme. Lihat saja John McClean dan Red Clydesiders yang mendukung Revolusi Bolshevik pada 1917, atau banyak para Glaswegian yang bergabung dengan Brigade Internasional melawan Franco dan fasisme di Spanyol pada tahun 1930-an, atau trade unionist yang memberikan penampungan bagi pengungsi Chile yang melarikan diri dari kejaran fasis Pinochet,” ujarnya.

Dukungan Green Brigade bagi Aida Celtic dan perjuangan rakyat Palestina untuk hak asasi manusia merupakan kelanjutan dari tradisi baik ini.

Asa di balik jersi
Ketika para suporter Celtic mengibarkan bendera Palestina pada 2016, banyak orang berpendapat bahwa sepakbola dan politik benar-benar harus dipisahkan. Tapi di lorong-lorong sempit Kamp Pengungsi Aida, semuanya melulu tentang politik.

Setelah tiga tahun berjalan, relasi antara Green Brigade dan kamp telah melahirkan Aida Celtic, akademi sepakbola yang merepresentasikan kamp dan cabang Lajee Centre. Akademi ini berencana menciptakan dua tim: junior (12-15 tahun) dan tim dengan usia 16+. Tujuannya adalah mengarahkan para pemain sepakbola untuk memaksimalkan potensinya dengan menyokong semua kebutuhan dan keuangan para pemain.

“Proyek ini merupakan jalan untuk membangun pengumpulan dana selama kampanye Match the Fine for Palestine,” ungkap Yousif. “Selama bekerja dengan Lajee Centre, kami ingin tim berkembang. Caranya dengan menyediakan ruang di kamp bagi anak-anak muda untuk bermain sepakbola meskipun di bawah tekanan tinggi pendudukan Israel.”

Jersi Aida Celtic didesain khusus dan telah dijual secara luas. Seluruh keuntungannya digunakan untuk mendukung kegiatan sepakbola di Kamp Aida. Harapannya, hal ini dapat menciptakan warisan yang membekas dan menjadi sumber keuangan reguler bagi Lajee Centre.

Produsen jersi adalah perusahaan yang bergerak dalam distribusi merek asal London, a number names. “Saat saya mendengar tentang Aida Celtic, saya merasa terpanggil untuk terlibat dalam proyek ini dan berdonasi untuk tahap pertama produksi jersi yang sudah ludes terjual.” ungkap Craig Ford, penggagas a number names.

“Kapan pun aku memberitahu seseorang tentang cerita Aida Celtic, mereka tergerak”, singgung Ford. “Aku bahkan tidak dapat menyembunyikan air mata ketika menceritakan kisah ini pada seseorang. Aku tumbuh sebagai suporter Rangers, tapi aku juga menyadari bersolidaritas dengan rakyat tertindas di seluruh dunia seperti rakyat Palestina adalah penting.”

Primal Scream sejak jauh hari telah melantangkan “Loaded”, well, we wanna be free, we wanna be free to do what we wanna do/ and we wanna get loaded and we wanna have a good time… Sepenggal lirik menggugah itu gaungnya relevan bagi rakyat Palestina hingga kini.

Anak-anak Palestina di Kamp Aida tentunya ingin menikmati kebebasan bermain sepakbola di suatu sore musim panas yang hangat di teembusan udara Tepi Barat dan Gaza tanpa serbuan gas air mata juga tanpa kematian sia-sia.

Sumber
Bobby Gillespie talks music, politics and Old Firm Violence Buzz.ie
Celtic football fans and Palestinian refugees: Kicking against despair Middleeasteye.net

(Visited 39 times, 1 visits today)
Post a Comment

You don't have permission to register