Bobotoh Butuh Ruben Onsu

Persib Bandung nyaris mengakhiri catatan buruknya saat meladeni Persela Lamongan di Stadion Surajaya, Lamongan (8/8/2019). Sebagaimana diketahui, Persib selalu menderita kekalahan di tiga laga sebelumnya. Harapan kemenangan itu hadir saat melawan Persela, setidaknya sampai babak pertama usai.

Persib unggul 1-2 berkat gol yang dicetak Esteban Vizcarra dan Achmad Jufriyanto. Sayang, kemenangan yang sudah di depan mata itu sirna saat penyerang Persela, Alex dos Santos Gonçalves, menjaringkan bola ke gawang I Made Wirawan pada menit ke-61. Kedudukan 2-2 bertahan hingga wasit meniup peluit panjang.

Per 8 Agustus 2019, Persib menduduki peringkat ke-9 di tabel klasemen sementara dengan poin 14. Menderita lima kali kekalahan, lima kali seri, dan hanya tiga kali meraih kemenangan. Dengan catatan demikian, wajar apabila bobotoh merasa hasil buruk sangat rapat diterima Persib sejauh ini. Alhasil, seperti biasa dan sebagaimana yang sudah-sudah, bobotoh menumpahkan kekesalannya di lini masa. Opini dan sumpah serapah berseliweran.

Jujur saja, saya sudah jenuh menyimak beragam opini tentang Persib yang berserak di media sosial. Informasi dan opini-opini itu bagaikan  limbah yang tak bernilai karena hanya berangkat dari spekulasi dan prasangka semata. Minim data, minim analisis, apalagi verifikasi.

Saya rasa, di tengah banjir bandang informasi minim bobot itu, bobotoh perlu mendengarkan opini dari seseorang yang tak perlu lagi diragukan kapasitasnya dalam membahas Persib. Ia tahu betul bagaimana keadaan tim Persib di dalam dan luar lapangan. Analisisnya akurat. Pandangannya visioner. Bicaranya keminggris. Ia bagaikan kaum Sofis di masa Yunani Kuno, primus inter pares di antara sesamanya.  Siapa lagi kalau bukan Ruben Onsu.

Sebagai contoh, simak saja saat beliau mengabarkan isu skandal suap yang dilakukan Mario Gomez, Fernando Soler, Jonathan Bauman, dan beberapa terduga pemain lain musim kemarin. Menurutnya, Gomez dan Soler sengaja menjual pertandingan demi meraup cuan karena permintaan naik gaji mereka tak dikabulkan manajemen. Memang, pelatih yang bagus belum tentu sifatnya baik. Astagfirullah.

Hal ini semakin kentara sehubungan dengan turunnya performa Persib jelang akhir musim 2018.  Faktor-faktor lain yang mungkin membuat turunnya performa seperti sanksi  bermain di luar Jawa Barat akibat kasus Haringga, hingga hukuman terhadap beberapa pemain inti, jelas bukan sebab utama. Toh di putaran pertama saja, Persib bisa perkasa saat berlaga tadang. Sudah pasti ini semua karena ada yang sengaja menjual pertandingan Persib demi keuntungan pribadi.  Tidak perlu lagi melakukan verfikasi atau konfirmasi kepada para terduga. Apalagi sampai harus melakukan liputan mendalam oleh media-media Persib guna membuktikan kebenarannya. Semua yang diinformasikan Ruben Onsu sudah pasti benar. Tak perlu diragukan.

Musim kemarin, beliau juga memberi tahu bahwa hubungan antarpemain di dalam tim tidak harmonis. Melalui cuitan- cuitannya yang keminggris ala anak Jaksel itu, ia mengabarkan bahwa ada gap antarpemain sehingga membuat kondisi locker room kurang intimate. Terlebih di kalangan foreigner players, ada yang bisa blend dengan local boys, namun ada juga yang lebih memilih berkumpul dengan sesama pemain asing saja. Kabarnya, pemain asing yang mampu blend dengan local boys hanya Ezechiel.

Lagi-lagi informasi yang diberikan beliau terbukti. Pada laga melawan Barito Putera, Jonathan Bauman terlibat pertikaian dengan Ezechiel di tengah pertandingan hanya karena Bauman tidak mengoper bola kepada Ezechiel yang sudah berada dalam posisi bebas. Bukankah itu menunjukkan adanya ketidakharmonisan di dalam tim?

Memang, miskomunikasi dan miskoordinasi bisa menjadi sebab pertikaian seperti itu.  Dan hal itu biasa terjadi antarpemain satu tim. Sebagaimana yang pernah dialami Jamie Carragher dan Alvaro Arbeloa, Emmanuel Adebayor dan Nicklas Bendtner, hingga Kieron Dyer dan Lee Bowyer.

Namun, dengan menimbang faktor empiris sekaligus jalan berpikir konspiratif, Ruben Onsu yakin pertikaian antara Ezechiel dan Bauman bukan hanya disebabkan oleh miskomunikasi dan koordinasi di lapangan saja. Ada sesuatu yang lebih dalam dan besar dari itu, yakni mulai retaknya hubungan antarpemain di luar lapangan.

Di akhir musim, berkat informasi-informasi berharga yang disuplai Ruben Onsu, banyak bobotoh tak merasa kehilangan saat manajemen memutus kontrak Mario Gomez hingga Jonathan Bauman. Tak ada rasa berat di hati saat pelatih yang di musim pertamanya mampu membawa Persib juara paruh musim dan duduk di peringkat keempat klasemen akhir itu angkat kaki dari Bandung. Bahkan, banyak bobotoh bersyukur bahwa dengan hengkangnya para mata duitan itu, Persib terselamatkan dari benalu yang hanya akan merusak tim.

Kini, selepas hengkangnya para mata duitan itu, Persib dan bobotoh berbahagia dengan kehadiran Robert Alberts. Pelatih yang musim kemarin membawa PSM Makassar menjadi runner-up dengan hanya selisih satu poin dari sang juara, Persija Jakarta.

Namun, entah mengapa justru performa Persib menukik sejauh ini di bawah kendali Robert. Ini anomali. Memang, pemain yang ada saat ini bukanlah pilihan Robert. Namun, sebagai pelatih kawakan yang sudah malang melintang di persepakbolaan Indonesia, sewajarnya Robert bisa meracik pemain yang ada dengan maksimal sampai dibukanya jendela transfer nanti. Sewajarnya, Robert mampu membawa Persib meraih lebih dari sekadar tiga kemenangan. Ingat, sebagaimana kata Ruben Onsu di awal musim, Robert bukanlah pelatih kelas SSB seperti Miljan Radovic.

Mari kita, para bobotoh, mulai berpikir konspiratif dan sensasional ala Ruben Onsu: pasti ada masalah yang jauh lebih besar yang menyebabkan merosotnya performa Persib saat ini. Tapi, bobotoh agaknya sulit berpikir demikian tanpa bimbingan langsung dari Ruben Onsu di lini masa. Oleh karenanya, lewat tulisan ini, saya mohon kepada Ruben Onsu untuk segera muncul kembali di lini masa. Para bobotoh membutuhkan informasi-informasi berbobot darimu.[]

(Visited 155 times, 1 visits today)

Meminati sepakbola yang berkisah. Balbliter's Sidekick.

Post a Comment

You don't have permission to register