Menjawab Tudingan “Bobotoh Tidak Nasionalis”

 

Makassar, 18 Agustus 2019. Saya berada di tribun Stadion Andi Matalatta untuk mendukung Persib, Sang Pangeran Biru, berlaga melawan tuan rumah, PSM Makassar. Kekalahan 1 – 3 dari tuan rumah memang menyakitkan. Kekalahan yang menambah rekor tak pernah menang dalam enam pertandingan terakhir. Tetapi, selalu ada sisi baik di balik sebuah tragedi.

Sebuah koreografi terpampang  di tribun Utara, diciptakan oleh Creative Division Bobotoh dan Redgank Makassar. Koreo yang sangat menarik perhatian dengan memperlihatkan gambar Maung Bandung sedang berjabat dengan Ayam Jantan dari Timur sambil memegang gambar burung garuda disertai tulisan, “KAPAN SEPAKBOLA INDONESIA MASUK KE PIALA DUNIA??!!”

Koreo itu merupakan bukti  kecintaan bobotoh dan Redgank terhadap bangsa ini. Khusus bagi bobotoh, ini merupakan hal yang menarik karena bobotoh acap dituding sebagai suporter yang tidak nasionalis.

Saya  masih ingat ketika banyak orang  menuduh bobotoh tidak nasionalis lantaran bobotoh ramai membuat tagar #MyanmarDay saat Timnas Indonesia melakoni laga uji coba melawan Myanmar, Oktober 2018. Padahal, tagar itu dibuat sebagai bentuk protes bobotoh kepada PSSI yang memberikan sanksi bertubi-tubi kepada Persib dengan dasar yang seakan dibuat-buat.

Pada Oktober 2010, Bambang Pamungkas, penyerang Persija Jakarta, menjadi sasaran cacian bobotoh tiap kali ia menguasai bola saat membela Timnas Indonesia melawan Maladewa di Stadion Siliwangi, Bandung. Ini seakan memperkuat kesan bahwa bobotoh memang tidak nasionalis dan ogah mendukung Timnas.

Atep pun pernah mengalami hal serupa dengan Bambang saat membela Timnas Indonesia dalam laga uji coba melawan Persib Bandung di Stadion Siliwangi. Atep masih berseragam Persija Jakarta ketika itu.

Ada adagium pula bahwa kalau Timnas Indonesia main di Bandung, stadion selalu sepi penonton. Padahal, ini merupakan salah satu bentuk kritik bobotoh kepada Timnas Indonesia yang minim prestasi. Jangankan Timnas,  Persib saja yang performanya sedang anjlok saat ini, diperlakukan sama oleh bobotoh. Stadion Si Jalak Harupat selalu sepi penonton tiap Persib bertanding.

Otto Iskandardinata, tokoh nasional asal Jawa Barat yang memiliki julukan “Si Jalak Harupat” karena keberaniannya menentang penjajah, juga pernah menjadi sasaran kritik bobotoh. Saat itu, Otto bertugas sebagai Wakil Ketua Persib, sedangkan ketuanya adalah Anwar Sutan Pamuncak. Keterlibatan Otto mengurus Persib adalah untuk menjadikan sepakbola sebagai alat perjuangan.

Tujuan besar tersebut tak berarti membebaskannya dari sasaran kritik bobotoh yang disuarakan lewat koran Sipatahoenan terkait merosotnya penampilan Persib Bandung.  Tapi ,Otto tak keberatan diperlakukan demikian. Dalam buku biografinya, Oto Iskandar Dinata, The Untold Stories karya Iip D. Yahya, ia memaklumi kritik pedas bobotoh yang dilancarkan kepadanya.

Bentuk kecintaan tak harus selalu ditunjukkan dengan menyanjung dan memuji tim kebanggaan, melainkan juga dengan mengkritiknya. Itu adalah upaya agar tim yang kita cintai mengetahui segala kekurangannya untuk kemudian memperbaikinya.

Bahkan, Presiden Soekarno pun terkenal getol memberi kritik kepada Timnas Indonesia. Pada turnamen Asian Games 1954 dan 1958, Indonesia mampu menembus hingga babak semifinal. Prestasi yang sebenarnya tak buruk-buruk amat jika dibandingkan dengan sekarang. Tapi, Soekarno tetap tak puas dengan capaian itu. Ia pun memberi pekerjaan rumah kepada Maladi, Ketua PSSI kala itu, untuk memperbaiki performa agar bisa meraih medali emas di Asian Games selanjutnya.

Majalah Aneka (edisi No.14 tahun 1962) mengutip  instruksi Soekarno kepada Maladi untuk Asian Games 1962, “Medali emas harga mati!”

Budaya kritik bisa dibilang telah mengurat-akar di kalangan bobotoh. Tidak hanya untuk Persib, tapi juga untuk Timnas Indonesia. Dan ini adalah sesuatu yang baik karena kritik berfungsi sebagai kontrol. Sebagaimana yang diucapkan Adjat Sudrajat, legenda Persib, “Persib besar karena cacian, pujian adalah racun.”[]

 

 

(Visited 212 times, 1 visits today)

Penulis jika ingin, separuh kenakalan informatika dan separuh budaya sunda

Post a Comment

You don't have permission to register