Bobotoh UGM, Dukung Persib di Perantauan

Yogyakarta dijuluki “Kota Pelajar”. Banyaknya perguruan tinggi di Yogyakarta membuat julukan itu melekat sejak lama. Ada lima Perguruan Tinggi Negeri di Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada, Universitas Negeri Yogyakarta, UPN Veteran Yogyakarta, ISI, UIN Sunan Kalijaga. Kelima perguruan tinggi tersebut selalu banyak diminati oleh para calon mahasiswa setiap tahunnya, termasuk oleh mereka yang berasal dari Jawa Barat.

Para mahasiswa yang berasal dari Jawa Barat, yang tentunya berasal dari beragam kota dan kabupaten, biasanya terikat oleh satu faktor yang membuat mereka bisa saling terhubung: Persib. Agaknya sudah cukup banyak cerita ketika orang Jawa Barat tinggal di perantauan, Persib adalah salah satu hal yang bisa menghubungkan sekaligus menghidupkan rasa kedaerahan mereka.

“Yang menyatukan kita (mahasiswa Jawa Barat) di tanah rantau mah kan Persib, ya. Tanpa Persib mah akan susah,” ujar Dicky Maulana, eks anggota Viking Yogya.

Pada tahun 2012, Dicky menyaksaksikan bagaimana komunitas bobotoh di kampus-kampus Yogyakarta mulai dibentuk oleh Viking Yogya.

“Waktu itu liga sempet vakum, dampaknya aktivitas bobotoh di Yogya juga ikut vakum. Termasuk dirasakan juga oleh pengurus-pengurus Viking Yogya. Nah oleh karena itu, pengurus-pengurus Viking Yogya mulai inisiatif mengumpulkan orang-orang (pencinta Persib) untuk menghidupkan lagi geliat bobotoh di Yogya. Salah satu strateginya adalah membuat akun media sosial bobotoh untuk kampus-kampus. Karena di Yogya mah kan kebanyakan mahasiswa, ya. Nah, di kampus-kampus itu banyak bobotoh. Dibentuklah mulai dari Bobotoh UAD, UNY, UMY, hingga UGM. Tujuannya untuk mengenalkan kepada mahasiswa bahwa di kampus tersebut ada komunitas bobotoh. Jadi untuk mereka yang suka Persib, bisa gabung,” tutur Dicky.

 

Kelahiran Bobotoh UGM

Awalnya, saya mengira Bobotoh UGM merupakan sebuah organisasi yang di dalamnya terdapat struktur keanggotaan sebagaimana biasanya. Namun, anggapan itu sirna setelah saya berbincang dengan salah satu pendirinya, sebut saja namanya Ikid.

“Disebut sebagai organisasi sebenarnya kurang tepat. Kita lebih kayak perkumpulan aja. Gak ada struktur kayak ketua, wakil, dan lain-lain. Itu juga yang megang akun Bobotoh UGM gak melalui proses rekrut atau apa, dari kenalan aja. Kalo kita main atau kumpul pun seringnya sama Viking Yogya,” ujar Ikid.

Kendati bukan merupakan sebuah organisasi, bukan berarti Bobotoh UGM tidak punya kegiatan sama sekali. Dari aksi solidaritas hingga acara diskusi antarsuporter pernah mereka lakukan.

“Kegiatan kita sifatnya opsional, kayak waktu itu ada kasus suporter yang jadi korban pelemparan di Solo, nah kami ikut melakukan penggalangan dana bareng Viking Yogya. Terus kemarin waktu ada isu suporter mau turun ke jalan jelang pelantikan Presiden, suporter tuan rumah (PSIM dan PSS) bikin acara diskusi untuk menanggapi isu tersebut, kita diajak.”

Aktivitas sehari-hari mereka lebih banyak mengelola akun  Twitter. Terkadang, mereka juga turut memberi pandangan terkait isu bobotoh atau Persib yang sedang bergulir di media sosial. Dan sebagai seorang yang terpelajar, mereka tidak asal-asalan dalam mengeluarkan setiap pandangan di media sosial.

“Kalau kita mau ngelempar isu di medsos, kita diskusikan dulu di grup. Contohnya seperti saat kita mengkritik bobotoh yang selama ini jalur  keorganisasian dan komunikasinya tidak jalan. Itu kan sempat rame juga waktu itu,” jelas Ikid.

Persib pun tak terhindar dari kritikan Bobotoh UGM. Ada beberapa kritik, di luar soal teknis permainan, yang disampaikan Ikid untuk Persib.

“Dari sisi manajemen dan admin official. Manajemen masih belum bisa ngurus dengan bener, contohnya kasus banyaknya bobotoh bertiket yang gak bisa masuk stadion kayak kemarin. Terus admin official kurang cakap. Admin harus tahu timing saat upload sesuatu di media sosial. Kaya kemarin yang rame soal admin itu, kita mah gak ambil pusing masalah asal daerahnya (admin) dari mana, yang kita soroti soal kecakapannya mengelola akun sebesar Persib.”

Selain mengurus akun media sosial, Bobotoh UGM sering mengadakan kopi darat yang juga dihadiri oleh bobotoh di luar perkumpulan mereka. Acara biasanya diisi oleh obrolan seputar Persib.

“Itu pun model acaranya lebih kaya obrolan warung kopi aja. Bukan diskusi yang formal gitu.”

Awal tahun 2020, Ikid dan kawan-kawannya di Bobotoh UGM mempunyai rencana untuk membuat kegiatan yang sifatnya reguler. Mereka ingin menggagas acara diskusi yang tidak hanya membicarakan sepakbola secara teknis, tapi juga melalui perspektif sosial, budaya, politik, dan lain-lain.

“Rencana (kegiatan reguler) seperti ini  sebenarnya sudah lama. Dulu pernah mau collabs sama Bawah Skor (pengepul arsip sepakbola), ngomongin tentang arsip gitu. Karena banyak suporter di Indonesia yang tidak tahu atau buram akan sejarah tim kebanggaannya sendiri. Jadi biar suporter, khususnya bobotoh, bisa lebih aware sejarah klubnya. Pernah juga ngobrolin bikin semacam tur sepakbola sama bobotoh yang kuliah pariwisata di Yogya.”

“Kalo yang terdekat mah rencana pengen collabs sama futbolsnob, media baru, jadi sekalian mereka launching. Cuma model acaranya seperti apa belum sampe ke situ baru obrolan biasa aja.”

Ikid mengaku tidak ada rencana untuk mengubah Bobotoh UGM menjadi sebuah organisasi yang formal kendati mempunyai rencana kegiatan reguler itu.

“Untuk (jadi) organisasi kayanya enggak. Pertama karena anak-anaknya sudah nyaman dengan (bentuk) kaya gini. Dan belum siap aja kalo harus jadi organisasi. Takutnya semangat di awal, tapi di tengah-tengah malah berantakan. Ya sudah, mening kaya gini aja. Kalo ada yang mau gabung juga boleh. Gak ada syarat khusus. Kamu suka Persib, hayu kita ngopi. Nanti juga nyaman dengan sendirinya, hehe.”[]

 

 

 

 

 

(Visited 15 times, 1 visits today)

Meminati sepakbola yang berkisah. Balbliter's Sidekick.

Post a Comment

You don't have permission to register