Dari McKennie untuk Keadilan George Floyd

Weston McKennie mengenakan ban lengan bertuliskan Justice For George di lengan kirinya saat melakoni pertandingan Schalke 04 vs Werder Bremen dalam lanjutan Bundesliga (30/5). Sebuah pesan menuntut keadilan atas tewasnya George Floyd, seorang warga Minneapolis, Minnesota, Amerika Serikat (AS) di tangan polisi.

McKennie satu-satunya pemain yang mengenakan ban lengan khusus dalam laga yang berkesudahan 0-1 untuk Bremen tersebut.

Beberapa jam setelah pertandingan, McKennie mengunggah foto dirinya saat mengenakan ban lengan itu di Instagram. “Dapat menggunakan panggung ini untuk menarik perhatian terhadap persoalan yang sedang terjadi sungguh menyenangkan!!! Kita harus berani untuk apa yang kita yakini, saya percaya bahwa ini saatnya kita didengarkan!” tulis McKennie pada keterangan unggahannya.

McKennie merupakan pemain tim nasional sepakbola Amerika Serikat. Ia lahir di Washington, 28 Agustus 1998. Ia memulai karier profesionalnya di FC Dallas pada tahun 2009. Sejak tahun 2017, ia bergabung dengan Schalke 04. Kini, ia menjadi andalan lini tengah klub yang bermarkas di kota Gelsenkirchen itu.

Solidaritas McKennie terhadap George dipicu oleh kejadian pada 25 Mei 2020. Pada hari itu, George dicurigai melakukan transaksi menggunakan uang palsu sebesar 20 dollar AS. Polisi menangkapnya. Dalam proses penangkapan itu, George yang tak bersenjata dirubuhkan ke aspal, lalu lehernya ditindih oleh lutut seorang polisi selama hampir tujuh menit hingga ia lemas dan sulit bernapas.

George bahkan tak sanggup berdiri ketika polisi menyuruhnya  masuk ke mobil. Ia dinyatakan tewas di rumah sakit beberapa saat setelah ditangkap. Peristiwa penangkapan George terekam video amatir yang kemudian menjadi viral di media sosial.

George adalah orang kesekian yang tewas akibat perlakuan diskriminatif terhadap warga Afro-Amerika. Sebelumnya, seorang mantan polisi juga menewaskan Ahmaud Arbery, warga Afro-Amerika lainnya. Arbery tewas ditembak mantan polisi dan anaknya karena dianggap mirip pelaku perampokan rumah. Arbery yang tidak bersenjata itu sedang berjoging saat ditembak hingga tewas.

Peristiwa penembakan itu terjadi pada 23 Februari 2020, namun baru terungkap pada awal bulan Mei. Lagi-lagi setelah video amatir peristiwa itu viral. Hal tersebut memicu beragam aksi, mulai dari Solidarity Run for Ahmaud Arberry hingga aksi massa di Georgia.

Belum sebulan berlalu tuntutan keadilan atas kematian Arbery berlangsung, kematian George di Minneapolis membangkitkan amuk warga Afro-Amerika di negara bagian Atlanta. Imbas dari rasialisme aparat itu membangkitkan kembali gerakan dan tagar #BlackLivesMatter.

Gerakan Black Lives Matter (BLM) bermula dari tagar di media sosial pada tahun 2012. Tagar itu muncul sebagai upaya menuntut kasus-kasus penembakan oleh George Zimmerman terhadap warga Afro-Amerika Trayvor Martyn di Florida pada tahun 2012. Gerakan ini semakin membesar setelah dua kematian lainnya, Michael Brown (di Ferguson) dan Erik Garner (di New York).

Sejak pertengahan 2015 para aktivis BLM, seperti Alicia Garza, Patrisse Cullors, dan Opal Tometi, memperluas jaringan hingga menjadi gerakan nasional. BLM bahkan telah menjadi gerakan Internasional untuk kesetaraan warga kulit hitam di berbagai belahan dunia. Meski demikian, BLM bukan jaringan yang tersruktur secara resmi.

Di Minneapolis, bangkitnya gerakan BLM yang dimulai dengan aksi damai berubah menjadi kerusuhan akibat ulah represif aparat. Di beberapa titik terjadi pembakaran gedung-gedung dan penjarahan pusat perbelanjaan. Warga yang muak atas perlakuan diskriminatif melampiaskannya di jalanan.

Kerusuhan yang terjadi di Minneapolis bisa jadi merupakan akumulasi dari kemarahan warga Afro-Amerika yang selama ini selalu terdiskriminasi. Bahkan pada saat kerusuhan terjadi, aparat masih saja melakukan tindakan diskriminatif.

Tiga orang wartawan CNN ditangkap polisi saat bertugas menyiarkan siaran langsung dari tempat kejadian. Salah seorang di antara wartawan tersebut, Omar Jimenez, merupakan warga Afro-Amerika. Sementara itu, dalam laporan lain, wartawan CNN berkulit putih dibiarkan bebas untuk meliput.

Perlakuan diskriminatif terhadap warga Afro-Amerika terjadi sejak lama. Dalam sebuah sidang U.S. House alias DPR-nya AS, Al Green, perwakilan rakyat dari Texas, menyatakan perang terhadap rasialisme. Ia mengatakan tindakan diskriminatif terhadap warga Afro-Amerika telah terjadi sejak 1619 dan sejak kedatangan mereka ke AS.

Jauh sebelum Al Green berbicara mengenai perang terhadap rasialisme, petinju legendaris Muhammad Ali juga pernah bersuara cukup lantang mengenai perkara ini. Ketika ia berpidato untuk menentang Perang Vietnam, Ali mengatakan, “Musuhku adalah orang kulit putih, yang meninggalkan kami berjuang sendirian.”

Sementara itu, di Indonesia, perlakuan diskiriminatif mengakibatkan aksi berujung kerusuhan pada Agustus-September 2019 di Papua. Perlakuan rasialis terhadap mahasiswa asal Papua di Malang, Surabaya, dan Semarang adalah pemicunya. Api membara di Manokwari, Wamena, dan Jayapura. Pemerintah menyatakan sejumlah organsisasi Papua Barat terlibat kerusuhan, seolah melupakan api yang menyebabkan asap.

Sebagai penggemar sepakbola dan pencinta keindahan gaya bermain Persipura, saat itu saya membayangkan Kakak Boaz Salossa bisa menjadi seperti Muhammad Ali.

Dan itulah yang dilakukan Boaz. Meski tak eksplisit seperti Muhammad Ali, Boaz merespons perlakuan rasialis kepada mahasiswa asal Papua dengan mengunggah pernyataan satire di Instagram Story pribadinya. “Lebih terhormat yang mana 1. Monyet cari ilmu d rumah manusia 2. Manusia cari makan Di rumah MONYET??” tulis Boaz.

McKennie, Muhammad Ali, dan Boaz menjadikan panggung olahraga tak sekadar tempat bertanding untuk memenangi sebuah laga, tapi juga tempat  melawan pandemi rasialisme yang masih menjangkiti banyak tempat di dunia.[]

(Visited 33 times, 1 visits today)

Manajer Balbliter.id.

Post a Comment

You don't have permission to register