Jersi-Jersi Terkutuk

Jersi adalah aspek penting dalam dunia sepakbola. Merujuk sejarahnya yang dipaparkan Luciano Wernicke dalam buku Mengapa Sebelas Lawan Sebelas? (2017), aturan setiap tim wajib memiliki jersi pertama kali diterapkan oleh Football Association (FA) pada 1879.

“Dalam sepakbola, penting  agar para anggota tim dapat dibedakan dari lawannya. Satu-satunya cara untuk itu adalah dengan mengenakan seragam berbeda bagi kedua tim yang sedang bertanding. Bukan hanya untuk membedakan kedua tim tapi juga memudahkan penonton untuk memastikan seorang pemain berada di tim mana,” demikian bunyi penjelasan FA saat itu.

Aturan dengan tujuan amat sederhana itu menjadi semakin rumit seiring waktu.

Seiring perkembangan zaman yang membawa kemajuan peradaban, sebuah jersi tidak hanya dinilai dari fungsinya saja. Jersi juga harus mencirikan semangat atau nilai yang diusung pemakainya.

Jersi Timnas Nigeria untuk Piala Dunia 2018 yang banyak diburu pencinta sepakbola, selain kece, desainnya juga punya filosofi tertentu.

Kostum kebesaran Nigeria itu memiliki tema bertajuk “For Naija”. Secara deskriptif Naija memiliki arti tentang optimisme tertentu untuk menyambut masa depan. Hal tersebut telah mendorong generasi muda Nigeria untuk terus bergerak dan berbenah, guna menciptakan masa depan bangsa yang lebih baik. Selanjutnya, Naija juga mencerminkan kegembiraan anak-anak muda yang dibalut kebanggaan serta perspektif baru tentang patriotisme.

Itu adalah contoh pemberian makna positif dari sebuah tim terhadap jersinya. Namun, tak semua jersi memiliki cerita manis seperti halnya jersi Timnas Nigeria. Berikut adalah cerita-cerita jersi yang justru dikutuk oleh timnya sendiri.

Jersi Abu-abu Manchester United 1995/96

Pada musim 1995/96, Manchester United mengeluarkan jersi tandang mereka yang berwarna abu-abu. Secara visual terlihat biasa saja, tidak ada yang mencolok. Tetapi, jersey away itu justru memberikan ketidakberuntungan bagi tim setan merah di masa itu.

Hal itu bermula ketika Manchester United bertanding melawan Southampton di musim tersebut. Sang manajer, Sir Alex Ferguson menyadari pemainnya tak nyaman mengenakan jersi tersebut. Alhasil, Ferguson menyuruh para pemainnya mengganti jersi mereka saat turun minum.

“Lepaskan jersi itu, ganti dengan yang lain,” perintah Ferguson kepada anak asuhnya.

Para pemain kemudian menggantinya dengan jersi berwarna biru-puith. Meski pada akhirnya MU tetap takluk dari Southampton 3-1.

Namun, semenjak jersi itu tak lagi digunakan, penampilan MU perlahan membaik. Manchester United pun sukses menjadi kampiun pada musim itu.

Jersi Abu-abu Timnas Wales 2016

“Aku tidak yakin apakah Austria akan mengizinkan kami mengenakan jersi merah-putih atau tidak. Tapi, aku bisa memastikan satu hal kepadamu bahwa tidak ada dari pemain kami yang ingin mengenakan jersi abu-abu itu.”

Begitulah pernyataan pelatih Timnas Wales, Chris Coleman jelang berlaga melawan Austria di Piala Eropa 2016 lalu. Jersi yang dimaksud oleh Coleman pada konferensi pers adalah jersi tandang yang berwarna abu-abu dengan garis hijau.

Sepanjang mengenakan jersi itu, Wales mengalami tiga kali kekalahan, dua di antaranya terjadi di Piala Eropa 2016 saat kalah dari Inggris dan Portugal.

Nasib sial tiap menggunakan jersi itu membuat skuad Timnas Wales ogah memakainya lagi. Hal itu seolah terbukti karena di pertandingan akhir babak penyisihan grup, Rusia mengizinkan Timnas Wales memakai jersi kandang mereka. Timnas Wales pun sukses menang atas Rusia dan lolos ke fase gugur.

Jersi Liverpool Tahun 1971

Emlyn Hughes, gelandang Liverpool, mengutuk jersi yang dikenakan timnya saat berhadapan dengan Arsenal di final Piala FA 1971. Kala itu, Arsenal sukses mengalahkan Liverpool dengan skor 2-1.

Sebelum pertandingan, kedua tim harus menentukan siapa yang akan mengenakan jersi kebesaran. Pasalnya, kedua tim sama-sama punya jersi kebesaran berwarna merah.

Liverpool akhirnya diizinkan untuk mengenakan jersi merahnya. Arsenal, sementara itu, mengenakan jersi tandang berwarna kuning.

Usai pertandingan dan dinyatakan kalah, Hughes menyesali jersi yang dipilih timnya. Menurutnya, jersi yang dipakai timnya terasa lebih berat dibandingkan Arsenal. Hal ini dinilainya amat menguntungkan lawan. Alasan yang tentu saja terkesan mengada-ngada untuk menutupi kekecewaan kalah di laga final.[]

(Visited 28 times, 1 visits today)

Hidup itu harus menganut prinsip gudetama, penganut kaum rebahan yang apatis

Post a Comment

You don't have permission to register