Keadaan Tak Berpihak kepada Pengembangan Pemain Muda

Akademi sepakbola merupakan bagian penting dari pengembangan bakat pemain muda. Di Eropa, hampir setiap klub memilki akademi untuk pengembangan pemain muda di setiap level umur. Setidaknya dari umur enam tahun, anak-anak sudah bisa berlatih di akademi klub masing-masing.

Setelahnya, para pemain yang memiliki talenta menonjol dapat melanjutkan bersama tim utama maupun pergi ke klub baru untuk mendapatkan banyak pengalaman. Hal ini seperti yang dilakukan pemain belakang Real Madird, Sergio Ramos. Mungkin banyak yang mengira bahwa ia adalah lulusan akademi Real Madrid, namun pada kenyataannya bukan. Ia adalah lulusan akademi Sevilla yang direkrut Real Madrid karena saat itu dianggap sebagai pemain muda potensial.

Barcelona, Ajax Amsterdam, Arsenal, Chelsea, Liverpool, Real Madrid, Bayern Munich, merupakan sederet klub dengan akademi terbaik di Eropa. Pemain-pemain binaan akademi tersebut tersebar di berbagai klub elit dunia. Contoh yang paling terlihat adalah Lionel Messi yang bersinar dengan Barcelona sepanjang kariernya di dunia sepakbola.

Pengamat sepakbola Justinus Lhaksana mengatakan, Belanda adalah salah satu contoh negara yang memiliki pembinaan pemain muda terbaik. Di Negeri Kincir Angin itu, Sekolah Sepak Bola (SSB) diperlakukan sebagai sarana untuk berolahraga bagi anak-anak yang minim tuntutan untuk berprestasi.

“Di SSB, lu bayar 150 euro (Rp2.382.851) per tahun, dan itu nggak bisa ngecover semuanya. Jadi ada banyak sukarelawan yang bekerja di klub. Jadi kalo latihan ada trainer, kalo hari Sabtu tanding, ada coach. Dan coachnya biasanya orangtua yang ngerti bola. Jadi, SSB tujuannya adalah untuk berolahraga,” ujar pria yang akrab disapa Coach Justin itu dalam unggahan video di kanal Youtube pribadinya.

Justin juga mengatakan bahwa fasilitas seperti lapangan itu bukan hak milik klub, melainkan milik pemerintah daerah yang disubsidi. Banyak klub di Belanda mendapatkan subsidi dari pemerintah agar semua orang bisa berolahraga.

Tidak hanya di Belanda, Polandia juga memiliki fasilitas untuk pembinaan pemain muda yang baik. Hal ini diungkapkan oleh Egy Maulana Vikri yang bermain di Lechia Gdansk.

“Jadi kami kalau mau latihan sudah di kampnya, sementara itu tempat untuk mainnya, stadionnya beda. Karena itu, rumput stadion tetap terjaga karena hanya dimainkan sekali dan fasilitasnya juga lengkap. Itu sih, karena kompetisi yang bagus bakal banyak pemain yang bagus muncul,” ujar Egy dikutip dari Detik Sport.

Bagaimana dengan Indonesia? Di Indonesia sendiri ada ratusan SSB yang tersebar di seluruh wilayah nusantara. Tetapi, kenapa hasilnya tidak sebanding dengan kualitas pemainnya? Padahal, banyak anak-anak di Indonesia yang memilki potensi menjadi pemain kelas dunia.

Menurut mantan pemain Tim Nasional Indonesia, Rochy Putiray, kurangnya kompetisi tingkatan umur dan scouting yang tidak fair menyebabkan banyak pemuda Indonesia menghentikan mimpi menjadi pemain sepakbola dan beralih ke bidang lain.

Putiray juga menjelaskan bahwa nepotisme menjadi faktor utama pemain-pemain bagus memupuskan mimpinya karena tidak punya uang atau akses ‘orang dalam’ untuk memuluskan jalannya.

“Di sepakbola sekarang, KKN lebih banyak kok daripada kualitas. Jadi mau rekomendasi dari siapa pun, pada saat rekomendasinya enggak pakai duit, ya enggak masuk. Kalau orang tuanya punya duit dan mendukung, anaknya aman-aman saja. Tapi kalo orang tuanya enggak punya duit, ya udah berhenti di tengah jalan,” ujarnya kepada Tirto.id.

Naturalisasi pemain asing juga menjadi penghalang bagi talenta-talenta hasil binaan SSB untuk mendapatkan tempat di klub. Kebanyakan klub-klub besar di Indonesia lebih memilih membeli pemain jadi ketimbang menaikkan pemain hasil didikan akademi sendiri.

Contoh yang paling kentara adalah Persib Bandung. Saat ini, di luar empat pemain asing, ada tiga pemain naturalisasi di kubu Persib yakni Victor Igbonefo, Esteban Vizcarra, dan Fabiano Beltrame. Pelatih Barito Putera yang juga pernah melatih Persib, Djajang Nurjaman, bahkan sempat menyindir bahwa Persib diperkuat oleh tujuh pemain asing musim ini, saking seriusnya menghadapi kompetisi.

Terlepas dari buruknya sistem pembinaan di Indonesia, masih ada klub yang setidaknya peduli dengan talenta-talenta muda lokal, salah satunya adalah SSB Saint Prima di Bandung. Saint Prima memiliki sistem klasifikasi umur yang cukup baik di mana yang termuda adalah 7 tahun dan yang paling tua kelahiran 18 tahun. Sedangkan untuk usia 19-21 tahun, dipersiapkan untuk mengarungi kompetisi Liga 3.

Selain adanya nepotisme, pergaulan juga menjadi hambatan seseorang untuk melanjutkan karir sebagai pesepakbola. Hal ini diungkapkan oleh Dedi, salah satu pengurus SSB Saint Prima.

“Anak-anak di usia dini itu bagus, (tapi) di usia sekian, anak-anak itu sudah berubah. Ada satu (terpengaruh) jadi (anggota) geng motor, jadi apa, jadi apa. Misal, dari rumah berangkat, datang ke sini enggak latihan, orang tuanya nyusul ke sini. Ini pengalaman di sini (Saint Prima), ya,” ujar Dedi.

Minimnya kompetisi tingkatan umur, pembinaan yang kurang baik, nepotisme dan birokrasi yang rumit, merupakan faktor-faktor yang menyebabkan pemain muda di Indonesia sulit berkembang. Padahal, sepakbola adalah olahraga paling digemari di Indonesia.

Sudah sewajarnya federasi mulai membenahi segala sistem usang dan bobrok tersebut demi perubahan ke arah yang lebih baik. Tapi, sebagaimana yang sudah kita ketahui bersama, dapatkah kita menitipkan harapan besar itu kepada federasi?[]

(Visited 114 times, 1 visits today)

Hidup itu harus menganut prinsip gudetama, penganut kaum rebahan yang apatis

Post a Comment

You don't have permission to register