Kilau Megan Rapinoe di Luar Lapangan Hijau

Bagi saya yang baru menggeluti dunia sepakbola perempuan, nama Megan Rapinoe masih terdengar asing. Nama Rapinoe tidak seakrab Ada Hergerberg atau Lieke Martens di telinga saya.

Tak seperti kesan saya terhadap Hergerberg dan Martens yang didominasi prestasi mereka di lapangan hijau, kesan yang saya dapatkan dari Rapinoe justru didominasi dengan apa yang dilakukannya di luar lapangan.

Rapinoe adalah pejuang kemanusiaan.

Molly Clancy dari Buzzfeed mengunggah cerita Crystal Dunn, rekan setim Rapinoe di Timnas Perempuan Amerika, ihwal peristiwa yang terjadi pada tahun 2016 lalu.

Kala itu, sebelum pertandingan Timnas Perempuan Amerika kontra Thailand, Rapinoe berlutut tepat saat lagu kebangsaan Amerika Serikat diputar. Rapinoe melakukannya sebagai bentuk solidaritas untuk pemain quarterback NFL, Collin Kaepernick, yang melakukan hal serupa beberapa waktu sebelumnya. Kaepernick melakukannya sebagai tanda protes atas diskriminasi rasial yang masih marak terjadi terhadap warga kulit hitam di Amerika.

Dunn berdiri tepat di samping Rapinoe saat peristiwa itu terjadi. Dunn, yang merupakan perempuan kulit hitam, senang dengan apa yang dilakukan Rapinoe namun tidak bisa mengikutinya.

“Aku takut kehilangan pekerjaanku. Aku khawatir publik akan menilai berbeda ketika perempuan kulit hitam ikut berlutut,” ungkap Dunn.

Apa yang dilakukan Rapinoe memicu banyak reaksi, mulai dari pujian hingga kritikan. Salah satu yang mengkritik tindakan Rapinoe adalah seorang anggota dewan di Florida, Matt Gaetz. Gaetz menganggap Rapinoe telah melecehkan negaranya sendiri dengan tidak berdiri saat lagu kebangsaan diputar. Segala kritik itu berujung dengan pembuatan aturan yang mewajibkan seluruh pemain berdiri ketika lagu kebangsaan diputar.

Itu baru satu di antara aksi Rapinoe memperjuangkan kemanusiaan. Di luar itu, Rapinoe juga memperjuangkan kesetaraan upah bagi pesepakbola perempuan di Amerika.

Saat ini, upah yang diterima skuad Timnas Perempuan Amerika (USWNT) begitu timpang jika dibandingkan upah Timnas Pria Amerika. Padahal, kalau dilihat secara prestasi, Timnas Perempuan sudah menjuarai 4 edisi Piala Dunia. Sedangkan Timnas Pria, masuk final saja belum pernah.

Rapinoe mengatakan, andai upah USWNT setara dengan timnas pria, penghasilan para pemain USWNT akan naik tiga kali lipat.

Pada awal bulan Mei 2020, tuntutan Rapinoe dan Alex Morgan demi kesetaraan upah ditolak pengadilan. Tak tinggal diam, Rapinoe dan kawan-kawan mengajukan banding ke pengadilan berdasarkan Undang-Undang Kesetaraan Upah (Equal Pay Act).

Rapinoe juga terus menyuarakan kesetaraan gender. Bersama pasangannya, Sue Bird, mereka menyuarakan anti-diskriminasi kepada kelompok LGBTQ.

Terbaru, Rapinoe membahas persoalan pembunuhan George Floyd yang menyebabkan protes massal tidak hanya di Amerika, tetapi juga di seluruh dunia. Dalam wawancaranya di acara A Late Show with Stephen Colbert, Rapinoe mengatakan bahwa saat ini orang-orang memiliki kemampuan lebih dari apa yang mereka sadari.

Saat ditanya oleh Colbert mengenai aksi protesnya dengan cara berlutut empat tahun lalu, Rapinoe menjawab bahwa ia sangat menikmati hal tersebut. Ia tidak peduli orang lain suka atau tidak, dan ia percaya semua orang bisa mengubah dunia menjadi lebih baik dengan cara mereka masing-masing.

Sebagai pejuang kemanusiaan dan kesetaraan, Rapinoe jelas memiliki sentimen terhadap Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang terkenal dengan pandangan-pandangannya yang konservatif dan rasialis.

Salah satu insiden paling terkenal antara dirinya dengan Trump adalah saat menolak undangan orang nomor satu di Amerika itu untuk berkunjung ke Gedung Putih, beberapa hari setelah USWNT dinyatakan lolos ke putaran final Piala Dunia Perempuan 2019.

Trump membalasnya dengan berkata, “Juara dulu, baru bicara kemudian.” Rapinoe membalasnya lagi, bahkan dengan dua peluru sekaligus: USWNT juara Piala Dunia dan dirinya terpilih sebagai pemain terbaik di ajang itu.[]

(Visited 25 times, 1 visits today)

Hidup itu harus menganut prinsip gudetama, penganut kaum rebahan yang apatis

Post a Comment

You don't have permission to register