Kronik Kekisruhan di Tubuh Barcelona

Presiden klub Barcelona, Josep Maria Bartomeu, sedang berada dalam posisi kritis. Bartomeu menghadapi tekanan dari berbagai pihak yang akhirnya berdampak terhadap memburuknya keharmonisan antara dewan direksi dengan pemain serta pelatih.

Sebenarnya, kisruh antara dewan dengan pemain dan pelatih bukan hal baru di Barcelona. Pada 18 Mei 1996, pelatih Barcelona kala itu, Johan Cruyff terlibat konflik dengan Presiden Klub Josep Lluis Nunez.

Konflik itu muncul setelah Cruyff dilengserkan begitu saja dari kursi pelatih dan digantikan oleh Bobby Robson. Padahal, dua hari sebelumnya. Cruyff sempat bertemu Nunez dan wakil presiden klub Joan Gaspart dan tak mendapatkan pertanda yang mengindikasikan posisinya sedang dalam bahaya.

“Apakah Nunez tak punya keberanian untuk membicarakan masalah denganku secara empat mata?” ujar Cruyff.

Konflik itu pun memuncak kala Cruyff menolak ajakan berjabat tangan dari Gaspart sambal menyebutnya, “Judas!”.

Semenjak saat itu, peperangan di internal Barcelona—meminjam istilah Doyle—bagaikan episode Game Of Thrones: sulit diprediksi akhir ceritanya.

Kini, polemik baru sedang terjadi di tubuh Barcelona. Konflik yang bermula dari transfer Neymar hingga pemecatan massal di jajaran direksi klub beberapa waktu lalu. Berikut adalah rangkuman lini masa dari konflik tersebut.

Transfer Neymar

Direkrut pada tahun 2014, Neymar menjadi primadona bagi Barcelona. Tetapi, skandal transfer Neymar ke Paris Saint-Germain (PSG) yang melibatkan Sandro  Rossel terkuak ke permukaan.

Akhirnya, Rosell dipaksa mundur dari jabatan presiden klub dan posisinya pun digantikan oleh Bartomeu.

Uniknya, konflik yang melibatkan Bartomeu saat ini pun berhubungan dengan Neymar.

Para pemain meminta klub merekrut kembali Neymar dari PSG. Bartomeu pun mencoba merekrut kembali Neymar musim panas 2019 lalu, tetapi misi itu tidak berhasil.

Sialnya, hal itu berujung kepada renggangnya hubungan pemain dengan dewan klub, karena klub dianggap tidak sungguh-sungguh memboyong Neymar kembali.

Pemecatan Valverde

Kepergian Valverde pada pertengahan musim 2019/2020, menyebabkan para pemain kesal dengan cara dewan memecat Valverde secara tiba-tiba. Valverde sendiri dipecat setelah kalah 3-2 dari Atletico Madrid di ajang Piala Super Spanyol.

Persoalannya adalah dewan memecat Valverde tanpa menyediakan daftar calon penggantinya. Dewan sempat mengklaim sudah menghubungi Quique Setien beberapa pekan sebelum meresmikannya sebagai pelatih.

Akan tetapi, Setien sendiri mengaku di kemudian hari bahwa dirinya terkejut dengan penunjukkannya sebagai pelatih baru Barcelona menggantikan Valverde.

Saat ini, Setien pun terbukti gagal membawa Barcelona menjuarai La Liga. Padahal, saat dirinya ditunjuk sebagai pelatih, Barcelona memimpin klasemen La Liga.

Jendela Transfer Januari

Perekrutan Martin Braithwaite dari Leganes pada bursa transfer yang hampir saja tutup menyebabkan kemarahan dari suporter dan semakin memperburuk reputasi Bartomeu.

Saat itu, Barca sedang krisis striker. Luis Suarez harus menepi selama 3 bulan akibat cedera, dan Ousmane Dembele yang cedera membuat Barcelona tidak mempunyai pilihan lain selain memboyong Braithwaite dengan harga 18 juta euro.

Melihat performanya saat ini, Braithwaite tampaknya tak akan bertahan lama di Barcelona. Apalagi dirinya tak dapat bermain di Liga Champions.

Isu Media Sosial Barca-gate

Salah satu stasiun radio di Spanyol, Cadena SER, mengklaim bahwa Barcelona telah menyewa sebuah perusahaan media sosial yang bertujuan untuk menaikan profil Presiden Barcelona dan dewan eksekutif.

13 Ventures dilaporkan telah diberi tugas untuk mendiskreditkan profil individu-individu yang memiliki hubungan kuat dengan klub seperti Xavi, Messi, hingga Guardiola.

Tapi, Bartomeu langsung menyangkal laporan dari SER dan akan menuntut secara hukum bagi siapa pun yang melakukannya.

“Pertama dan yang utama, saya tidak pernah menyewa penyedia jasa apa pun untuk mendiskreditkan seseorang. Tidak pemain, eksekutif, maupun eks presiden. Itu tuduhan yang sangat salah,” ujarnya.

Pemotongan Gaji akibat COVID-19    

Pandemi COVID -19 telah berdampak terhadap hamper semua sektor, tidak terkecuali sepakbola. Lumpuhnya ekonomi memaksa para presiden klub berpikir keras demi menyelamatkan kondisi keuangan klub. Salah satu caranya dengan memotong gaji pemain.

Bartomeu mengajukan pemotongan 70 persen gaji pemain Barcelona untuk menggaji staf klub lainnya, dan timbulah sebuah rumor yang menyebutkan para pemain tidak mau gajinya dipotong sebesar itu.

Kapten Barcelona, Lionel Messi angkat bicara dan membagi kekhawatirannya soal rumor tersebut. Messi mengatakan bahwa ia dan tim rela memotong gaji mereka untuk membantu staf lain mendapatkan haknya secara utuh.

Bartomeu yang mendengar berita ini langsung membela sang kapten, tetapi saat ditanya mengenai bocornya rumor tersebut, Bartomeu memilih untuk diam, menyebabkan retakan antara tim dan dewan semakin dalam.

Pemecatan Massal

Setelah isu tentang BarcaGate menyebar luas, Bartomeu langsung mengadakan rapat dewan klub dadakan. Dalam pertemuan itu, beberapa pihak mendorong Bartomeu untuk mundur dari posisinya.

Namun, Bartomeu justru memperkuat posisinya dengan melengserkan beberapa dewan klub dengan alasan mereka tak masuk ke dalam rencana klub ke depan.

Salah satu korban dari pemecatan massal tersebut adalah Emil Rossaud. Rossaud mengaku Bartomeu terganggu dengan beberapa dewan yang dianggap menjadi biang bocornya isu yang menyebabkan para pemain marah.

Selain Rossaud, Maria Teixidor, Silvio Elias, Josep Pont, dan Jordi Clasamiglia juga mundur dari jabatannya.

Kekacauan ini berujung pada adanya isu korupsi dalam kasus BarcaGate, di mana Rossaud berbicara kepada RAC1 bahwa ada yang mengambil uang sebanyak satu juta Euro dari kas klub. Rossaud juga menambahkan ada pembayaran sebanyak tiga juta euro hanya untuk jasa perusahaan media sosial.

Bartomeu yang mendengar hal ini langsung menolak keras tuduhan Rossaud, dan berencana untuk menuntut Rossaud secara hokum. Bartomeu juga akan melakukan audit dengan menggunakan auditor independen.

Pada akhirnya, konflik di jajaran dewan klub telah mempengaruhi permainan tim di lapangan. Kesenjangan antara dewan dan pemain membuat mereka harus kehilangan titel La Liga ke tangan sang rival abadi, Real Madrid.[]

 

(Visited 69 times, 1 visits today)

Hidup itu harus menganut prinsip gudetama, penganut kaum rebahan yang apatis

Post a Comment

You don't have permission to register