Maradona dan Para Pahlawan

Hanya karena dia menyajikan permainan buruk di laga pembuka melawan Belgia, kemudian banyak orang bertanya-tanya, dari mana datangnya mitos Maradona dan mengapa itu masih bertahan?

Setelah petandingan Argentina kontra Hungaria, yang mana sang bintang kecil bersinar terang dari awal hingga akhir dengan ledakan aksi ciamiknya, maka tak ada lagi keraguan bahwa Maradona adalah Pele di tahun 1980an. Lebih dari itu,  ia adalah salah satu dewa yang diciptakan oleh manusia untuk disembah.

Untuk waktu yang cukup singkat—dalam dunia absolut dan tak tetap ini—Maradona sekarang, setidaknya untuk jutaan orang di dunia, adalah Pele, Cruyff, Di Stefano, Puskas dan beberapa nama lainnya: personifikasi sepakbola, pahlawan yang melambangkannya.

Rumor bilang, ratusan juta peso dikeluarkan Barcelona untuk merekrutnya adalah bukti nyata bahwa Maradona telah mengambil peran ini. Jika melihat permainannya saat melawan Hungaria, maka Barcelona telah melakukan investasi tepat . Sepuluh juta dolar adalah uang yang sangat banyak untuk membayar seseorang bermain bola. Akan tetapi, itu taka ada apa-apanya jika yang mereka beli adalah seorang tokoh mitologi; sebuah mitos.

Maradona adalah sebuah mitos. Bukan hanya karena ia bermain dengan hebat, tapi juga karena wajahnya yang menyenangkan dan tampak cerdas dan akan langsung terukir di ingatan setiap orang. Apakah kesan ini ada kaitannya dengan ukuran tubuhnya? Di pertandingan melawan Hungaria, menyaksikan ia beraksi berhadapan dengan para pemain bertahan Magyar yang tinggi dan berotot, yang secara menyedihkan tak dapat menghentikannya, orang-orang akan mendapat kesan bahagia bahwa ada keadilan alamiah di sana. Dalam sepakbola, keterampilan lebih penting ketimbang kekuatan, bahwa yang terpenting bukanlah itu, tetapi imajinasi dan gagasan.

Meski bertubuh kecil, Maradona tidak menampakkan kesan lemah. Ia terlihat solid dan kuat. Bisa jadi karena ia memiliki kaki yang kuat dengan otot yang menonjol yang dapat menahan tekel keras dari pemain-pemain lawan yang mematikan. Wajah itu, dengan mimpi dan kenaifan laiknya anak kecil yang nampak penuh dengan niat baik, adalah aset besar untuk menarik perhatian lawannya dan mempermalukan mereka, dan itu terlihat ketika ia perlu menyerang dan bermain dengan keras. Ia bisa melakukan itu dengan kekuatan yang nampak mustahil dengan fisiknya.

Tidaklah mudah untuk mendefinisikan permainan Maradona. Hal ini sangat kompleks. Setiap kata sifat yang tersedia untuk menjelaskannya harus ditambahkan makna ekstra. Ia tak brilian dan historik laiknya yang mulia Pele, tapi ia sangat efektif ketika melancarkan tembakan-tembakan keras dari sudut-sudut sempit dan juga ketika melakukan umpan-umpan pendek nan terukur. Ia mengorkestrasi serangan-serangan berbahaya, sangatlah tak adil jika menyebutnya tidak spektakuler; seorang pemain yang mengubah satu pertandingan menjadi pertunjukan kejeniusan individu (seperti yang ditulisakan seorang kritikus tentang permainannya melawan Hungaria).

Maradona memperumit batas antara karakteristik sepakbola Eropa yang ilmiah dan sepakbola Amerika Latin yang artistik. Ia adalah keduanya. Ia adalah gabungan yang aneh antara kecerdasan dan intuisi, pehitungan dan daya cipta, semuanya ada dalam dirinya. Seperti juga yang terjadi di sastra, Argentina telah menciptakan sepakbola gaya Eropa dengan ekspresi Amerika Latin.

Jika di pertandingan selanjutnya Maradona bermain laiknya melawan Hungaria, menginisiasi serangan tim dengan sama efektifnya, bertarung memperebutkan bola dengan energi serupa, menembak dan menyundul dengan kuat dan presisi, dan membantu rekannya bertahan, tak ada keraguan lagi sebagus apapun Argentina melaju di turnamen ini, ia akan jadi pahlawannya (dan juga tahun-tahun selanjutnya).

Orang-orang butuh sosok pahlawan yang bisa mereka jadikan Dewa. Tak ada satupun negara yang bisa lepas dari hal ini. Beradab dan biadab. Kaya atau miskin. Kapitalis atau sosialis. Setiap masyarakat membutuhkan irasionalitas untuk menyembah berhala dari daging dan darah dan membakar dupa untuk mereka.

Politisi, tokoh militer, bintang film, olahragawan, penjahat, playboy, santo, dan para bandit kejam telah diangkat ke altar popularitas dan berubah menjadi kultus kolektif yang dengan baik diumpamakan oleh lukisan Prancis: mereka menyebutnya “monster suci”. Ya, pesepakbola adalah sosok paling tidak berbahaya dalam lingkar berhala ini untuk disembah.

Pesepakbola jelas jauh tak lebih berbahaya daripada politisi atau pejuang yang di tangan mereka para massa ini dapat menjadi senjata yang menakutkan, dan kultus pesepakbola tidak terinfeksi oleh racun kesembronoan yang selalu mengelilingi pendewaan seorang bintang film atau kehidupan masyarakat bawah. Kultus seorang bintang sepakbola berlangsung selama bakatnya bertahan dan memudar ketika itu lenyap. Hal itu sangat singkat karena para bintang ini segera terbakar dalam api hijau stadion dan para pengikutnya yang keras kepala, berada di tribun, bertepuk tangan dan segera akan melontarkan cemoohannya.

Di sini juga merupakan sekte yang paling bersahabat. Seseorang tak akan menjadi terasing hanya karena dia mengagumi pesepakbola, mengagumi mereka ibarat mengagumi puisi dan lukisan abstrak. Mengagumi bentuk demi bentuk, tanpa ada sesuatu yang dapat diidentifikasikan secara rasional. Kebajikan sepakbola—keterampilan, kelincahan, kecepatan, keahlian, kekuatan—tidak bisa dengan serampangan dikaitkan dengan sikap sosial yang merusak atau perilaku tak manusiawi lainnya. Oleh karena itu, jika kita membutuhkan pahlawan, maka hadirlah Maradona. HIDUP MARADONA![]

Diterjemahkan dariMaradona y Los Héroes” Mario Vargas Llosa (Making Waves, 1996)

(Visited 181 times, 1 visits today)

Milanisti semenjana.

Post a Comment

You don't have permission to register