Membela Bale

Kegiatan tak berfaedah namun sangat saya nikmati ketika di rumah adalah menonton video-video di Youtube secara acak. Suatu hari, saya menyaksikan video tiga orang mengobrol dengan judul yang menjanjikan, “Pidi Baiq Memberi Wejangan”.

Ternyata tidak ada wejangan yang jelas dari Pidi Baiq dari video itu. Pidi Baiq mempersetankan segala motivasi dan inspirasi dalam hidup. Meski demikian, saya tetap menikmatinya. Berulang kali saya menonton video itu saat di rumah.

“Jangan-jangan yang lebih penting itu ngobrol [tak penting] kayak gini,” kata Pidi Baiq.

***

Apa yang banyak diharapkan pencinta sepakbola ketika tahu Gareth Bale pulang ke Tottenham Hotspur setelah menjalani musim yang centang perenang bersama Real Madrid?

Banyak yang mengharapkan Bale menemukan kehebatannya lagi di Tottenham Hotspur seperti sebelum dirinya hengkang ke Real Madrid. Fairuz Insani, kawan saya, menulis soal harapan Kelahiran Kedua Gareth Bale di Tottenham, beberapa hari setelah sang pemain diresmikan oleh klub berjuluk Bunga Bakung Putih itu.

Kembalinya Bale ke Tottenham Hotspur dibayangkan seperti seorang pesakitan di perantauan yang seharusnya bangkit lagi saat pulang ke kampung halaman. Dunia sepakbola, memang, tak kekurangan cerita seperti itu.

Fernando Torres kembali ke Atletico Madrid, klub masa kecilnya, usai melalui hari-hari yang buruk di Chelsea dan AC Milan. Zen RS dalam salah satu esainya menuliskan saat kembalinya Torres itu sebagai momen bocah hilang kembali ke rumah yang memberikannya rasa nyaman untuk kemudian mengulangi kejayaan masa silam. Keberhasilan Torres mencetak brace ke gawang Real Madrid beberapa hari setelahnya dijadikan penanda pemain berjuluk El Nino itu akan bangkit lagi di Atletico.

Hal serupa banyak dibayangkan orang terhadap Bale di Tottenham saat ini. Seharusnya, Bale bisa bangkit lagi. Semestinya, Bale bisa menyisir lagi di sisi kiri Tottenham Hotspur dengan lari secepat citah Afrika. Sewajarnya, Bale bisa mencetak gol lagi dari jarak jauh dengan tembakan sekencang roket.

Setiap orang boleh mencanangkan harapan, namun kenyataan berseberangan.

Gareth Bale baru tampil dua belas kali untuk Tottenham sejak kembali pada musim panas lalu. Laga terakhir yang dimainkannya adalah saat menghadapi Marine FC, tim Divisi Kedelapan Inggris, dalam lanjutan Piala FA. Bale pun tidak bermain penuh di laga itu. Di Liga Inggris, Bale tercatat hanya turun empat kali sejauh ini dengan rata-rata main selama empat puluh menit tiap satu pertandingannya.

Bale dihadapkan dengan masalah cedera yang sering kambuh saat kembali dari Real Madrid. Tetapi, kerinduan yang besar untuk melihat Bale seperti dahulu lagi kerap membuat faktor tersebut dikesampingkan, untuk tidak menyebutnya dilupakan. Jose Mourinho, manajer Tottenham, mengerti akan hal itu.

“Alasan mengapa dia tidak bisa mencapai level permainan seperti yang diingat suporter Tottenham tentang dirinya dahulu, sangat kompleks untuk dijelaskan,” kata Mourinho dalam konferensi pers pekan lalu yang dicatat The Athletic. “Jika Bale ada bersama kita di sini, mungkin dia akan sedikit menjelaskan. Saya tidak nyaman jika harus menjelaskan itu tanpa kehadirannya.”

Meski kariernya di atas lapangan hijau saat ini tak seindah yang diharapkan banyak orang, Bale tetap bahagia di Tottenham Hotspur. “Bale akan selalu menjadi pemain yang saya cintai,” kata Mourinho. “Dia orang yang sangat saya sukai kepribadiannya. Dia banyak berinteraksi dengan rekan-rekannya. Bergurau dan sebagainya. Dia orang yang membuat ruang ganti menjadi lebih menyenangkan,” sebut Mourinho menambahkan.

Segala puji dari Mourinho untuk Bale itu diamini oleh seorang petugas di klub yang tak mau disebutkan namanya. “Jika kami sukses musim ini, maka Bale adalah salah satu orang paling berjasa atas raihan itu,” katanya.

***

Kisah kembalinya Gareth Bale ke Tottenham tak seindah kisah Fernando Torres saat pulang ke Atletico Madrid. Tak ada kebangkitan atau kelahiran kedua bagi Bale jika dilihat berdasarkan performanya di atas lapangan. Semuanya nyaris sama seperti saat Bale menjalani musim 2019/2020 dengan Real Madrid.

Sebagaimana diungkapkan Mourinho, penyebab semua itu akan tetap menjadi misteri sampai akhirnya Bale sendiri yang berbicara.

Mungkin memang keadaan seperti ini yang dikehendaki oleh Bale sekarang. Pulang ke rumah tak berarti harus membuktikan hal-hal besar lagi di atas lapangan. Lagi pula, Bale sudah pernah mendapatkan semuanya. Empat trofi Liga Champions selama membela Real Madrid. Hanya Bale pemain asal Britania yang mampu mengangkat Si Kuping Besar sebanyak empat kali. Belum lagi trofi La Liga yang diraihnya bersama Los Blancos.

Barangkali, Bale pulang ke Tottenham, ke rumahnya, hanya untuk bersenang-senang. Sebagaimana yang dijelaskan Jose Mourinho: menjadi penyemarak ruang ganti, bergurau, menjahili rekan-rekannya. Bukankah kita biasanya hanya bisa bertindak seluwes itu ketika sedang di rumah bersama orang-orang yang kita cintai?

Rasanya saya ingin menyodorkan video berjudul “Pidi Baiq Memberi Wejangan” kepada Bale. Mungkin Bale akan mengangguk ketika Pidi berkata dalam video itu, “Di rumah téh saya mah pengen santai, gak mau dikasih PR kata-kata motivasi. Beban buat saya.”

Jangan-jangan, memang itu yang paling penting untuk Bale saat ini.[]

(Visited 12 times, 1 visits today)

Meminati sepakbola yang berkisah. Balbliter's Sidekick.

Post a Comment

You don't have permission to register