Mengakhiri Perseteruan Suporter Sepakbola dan Penggemar K-Pop

Sebuah akun di Instagram, @faktaball_, mengunggah berita pesepakbola Son Heung-min yang baru saja selesai menjalani masa wajib militer di Korea Selatan. Sekilas, tidak ada yang bermasalah dari unggahan tersebut. Namun, masalah segera disadari saat melihat judul unggahan itu yang seolah memprovokasi para pencinta K-Pop.

Ini Baru Oppa! Jago main bola, bawa negaranya berprestasi dan siap tempur..Jangan kaya Oppa” yang joget” gak jelas trus muka di dandanin wkwk,” tulis @faktaball_ dalam unggahannya.

Sontak, unggahan itu langsung jadi tempat para pencinta sepakbola meluapkan rasa sinisnya kepada para penggemar K-Pop. Komentar-komentar yang diluapkan beragam, namun punya dasar anggapan serupa: pesepakbola dianggap jauh lebih maskulin dibandingkan para bintang K-Pop karena berani menjalani masa wajib militer.

Faktanya, semua warga laki-laki Korea Selatan yang belum mencapai umur dua puluh delapan tahun diwajibkan mengikuti wajib militer. Son hanya diwajibkan mengikuti satu bulan pelatihan militer karena berhasil membawa Korea Selatan menjuarai Asian Games 2018.

Sinisme pencinta sepakbola kepada penggemar K-Pop dalam unggahan tentang Son hanya satu di antara sekian banyak contoh lain perseteruan antara pencinta sepakbola dan K-Pop.

Saat FIFA menyelengarakan voting untuk pemilihan lagu yang akan diputar saat jeda pertandingan antara Prancis melawan Kroasia di final Piala Dunia 2018.  Munculnya lagu BTS dan EXO sebagai kandidat menjadi pemicu amarah pencinta sepakbola. Bahkan, para supporter yang tidak senang dengan hal tersebut sampai membuat petisi kepada FIFA untuk tidak memainkan lagu K-Pop di laga final.

Kasus lainnya terjadi ketika akun media sosial resmi La Liga mengunggah foto dua anggota grup boyband  K-Pop yang sedang menonton pertandingan La Liga. Para penggemar K-Pop langsung membanjiri kolom komentar dan para suporter sepakbola merasa terganggu. Perselisihan dan perang komentar antara keduanya pun terjadi.

“Plastik” menjadi kata yang paling sering digunakan suporter sepakbola saat mengejek pencinta K-Pop. Hal ini disebabkan karena adanya isu bahwa para bintang K-Pop melakukan operasi plastik untuk memperindah penampilan mereka.  Meskipun isu tersebut belum tentu benar.

Fanatisme menjadi ciri kuat yang dimiliki oleh suporter sepakbola maupun pencinta K-Pop. Keduanya tidak gentar apabila harus meladeni cibiran atau hinaan. Keduanya siap menjadi garda terdepan untuk melindungi idola masing-masing.

Keduanya kerap membesarkan masalah-masalah yang sebenarnya sepele. Masing-masing menganggap kelompok mereka lebih baik dibandingkan kelompok lainnya.

Padahal,  baik bintang K-Pop maupun pemain sepakbola tidak selayaknya dibanding-bandingkan superioritasnya baik dari segi maskulinitas maupun perjuangannya. Bahkan, banyak dari mereka, suporter dan pencinta K-Pop, tidak tahu bahwa ada bintang K-Pop yang senang dengan sepakbola ataupun sebaliknya.

Kedua basis ini seharusnya tidak berlagak superior diatas yang lain, semuanya memiliki porsi masing- masing. Jadi, mengapa bertengkar kalau di kehidupan nyata idola mereka justru saling mengagumi satu sama lain.[]

(Visited 78 times, 1 visits today)

Hidup itu harus menganut prinsip gudetama, penganut kaum rebahan yang apatis

Post a Comment

You don't have permission to register