Mereka yang Kehilangan akibat Akuisisi Blitar United

Minggu siang (7/7/2019), Bandung diguyur hujan. Saya nyaris membatalkan rencana menyaksikan pertandingan sepakbola bersama seorang kawan di Stadion Siliwangi, Bandung.

“Santai aja dulu, ya. Mudah-mudahan (hujan) reda,” ujar kawan saya melalui pesan Whatsapp.

Pukul 15.15 WIB, hujan reda. Saya segera mengabari kawan saya itu untuk berangkat. Di jadwal, pertandingan baru akan dimulai pukul 15.30 WIB. Masih ada cukup waktu agar tak ketinggalan sepak mula, pikir saya.

Kami akan menyaksikan pertandingan Liga 2 antara Blitar Bandung United kontra Persibat Batang. Tujuan utama kami menghadiri pertandingan itu adalah untuk menyaksikan kawan kami semasa Sekolah Menengah Pertama (SMP), Fajar Nur Hakim, yang kini bermain untuk Persibat Batang. Namun, kami juga tak bisa memungkiri rasa penasaran kepada Blitar Bandung United. Kami ingin tahu bagaimana tim yang lebih masyhur disebut “Persib B” ini bermain.

Sesampainya di Stadion Siliwangi, hanya ada segelintir penonton yang menyaksikan kedua tim bertanding. Kendati demikian, Blitar Bandung United tampil trengginas di kandangnya sendiri.

Blitar Bandung United berhasil memungkasi laga dengan kemenangan. Total empat gol berhasil mereka sarangkan tanpa balas. Riuh tepuk tangan penonton usai pertandingan semakin menyemarakkan kemenangan pertama yang diraih anak asuh Liestiadi di Liga 2 musim ini.

Liestiadi mengungkapkan bahwa kemenangan tersebut dipersembahkan untuk Kota Bandung sebagai obat penghibur di tengah buruknya performa Persib Bandung. Mungkin dalam semesta pikirannya, Blitar Bandung United dan Persib adalah adik-kakak yang mesti saling melengkapi dan menyayangi.

Kesedihan di Timur
Di Bandung, Jawa Barat, Blitar Bandung United merayakan kemenangan pertamanya dengan penuh suka cita. Sementara di Blitar, Jawa Timur, banyak orang justru dibuat sedih dan kecewa karena tim ini.

Seperti banyak diketahui sebelumnya, Blitar Bandung United terbentuk berkat hasil akusisi yang dilakukan PT Persib Bandung Bermartabat (PBB) terhadap klub peserta Liga 2, Blitar United. Awalnya, isu akusisi ini hanya berembus selewat saja. Sampai akhirnya Teddy Tjahyono, Direktur PT PBB, mengakuinya.

“Memang benar Blitar United akan kami beli dan berganti nama jadi ‘Persib B’. Bukan ‘Bandung B’ seperti yang dikatakan Robert Alberts. Tapi masih dalam proses, tinggal administrasi saja,” ujarnya dikutip dari Tirtoid.

Pelatih dan para pemain yang akan mengisi skuatnya pun tak lama mulai bermunculan. Dan entah bagaimana ceritanya, nama tim tersebut berubah menjadi Blitar Bandung United, bukan Persib B seperti yang dikatakan Teddy sebelumnya.

Yang jelas, akusisi ini menyisakan luka bagi banyak warga Blitar. Salah satunya dirasakan oleh Wisnu Yoga Prasetya, pendiri sekaligus pengurus Black Army, komunitas suporter Blitar United.

“Kecewa. Kita menemani Blitar dari titik nol sampai sekarang. Sejak bermain di Liga Regional Jawa Timur sampai akhirnya mentas di Liga 2. Teman-teman (anggota Black Army lain) juga sangat kecewa,” ucapnya saat diwawancara via sambungan telepon.

Wisnu mengisahkan bahwa keputusan manajemen klub menjual Blitar United ke PT PBB, dilatari krisis keuangan yang membelit klub sejak dua tahun lalu.

“Waktu juara Liga 3 tahun 2017, uang hadiah juara dari PSSI belum turun sama sekali sampai kita main di Liga 2. Itu bikin klub kerepotan untuk menjalankan operasional. Saya gak ngerti, PSSI banyak dapat uang dari hasil mendenda klub Liga 1, tapi susah untuk mencairkan uang juara.”

Sebelum resmi dijual, Wisnu sempat bertanya kepada Yudi Meira, manajer Blitar United, mengapa sampai ada isu bahwa Blitar United akan dijual.

“Ya gimana, mas. Cari sponsor itu sulit. Saya sudah berusaha cari sponsor sana-sini tapi sulit. Andai ada yang mau membantu, Blitar United akan tetap di Blitar,” ujar Wisnu mengulang perkataan Yudi.

Wisnu dan kawan-kawannya di Black Army bukan tanpa usaha dalam mencegah klub kesayangannya agar tidak dijual. Beberapa kali mereka melakukan negosiasi dengan Yudi.

“H-3 sebelum resmi dijual, saya dan dua orang teman ngobrol bareng di rumah beliau (Yudi) untuk mencari jalan keluarnya. Kami coba kasih saran untuk lakukan merger dulu dengan perusahaan lain, jangan asal jual. Kami juga memberitahu beliau bahwa lusa kami akan melakukan aksi damai di depan Stadion Soepriadji. Tujuannya untuk saling berbagi informasi dan sama-sama cari jalan keluar,” tuturnya.

Sayang, sehari sebelum aksi damai dilakukan, mereka mendapat kabar bahwa Yudi tak bisa menemui massa aksi karena harus berangkat ke kantor PSSI di Jakarta. Wisnu dan kawan-kawan pun urung melakukan aksi.

“Keesokan harinya, sudah ada berita fix dijual ke Persib,” ucap Wisnu datar.

Kini, setelah Blitar United tak lagi ada, Wisnu dan kawan-kawannya di Black Army berencana akan memberikan dukungan untuk PSBK Blitar yang berlaga di Liga 3 Pra Putaran Nasional.

“Kalau bukan kita-kita, siapa lagi yang mau peduli dengan tim lokal. Saya gak mau melihat tim lokal yang ada di Blitar mati atau dijual lagi. Kita harus dukung tim lokal agar maju dan menjadi klub profesional.”

Tanggapan Viking Cyber Blitar
Namanya Arief. Namun, ia lebih akrab dipanggil “Jendral” di kalangan suporter Kota Blitar. Jendral cukup unik. Ia kelahiran asli Blitar, dan sama sekali tak memiliki garis keturunan orang Sunda atau Jawa Barat. Meski begitu, sejak kecil ia sudah menyukai dan mendukung Persib Bandung.

“Mungkin karena saya suka warna biru sejak kecil. Dan tiap denger kata ‘Persib’ itu kebayangnya klub elit,” ujarnya saat diwawancarai.

Tahun 2013, saat ia duduk di bangku Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), ia mendirikan komunitas Viking Cyber Blitar bersama tiga orang kawannya. Tujuannya untuk mewadahi mereka yang menyukai Persib di Kota Blitar.

“Anggota resmi yang ber-KTA total ada 90 orang saat ini. Hampir 90 persen anggota isinya orang Blitar semua.”

Menanggapi isu diakusisinya Blitar United oleh PT PBB, Jendral juga tak bisa menyembunyikan kekecewaannya. Kendati ia bukan suporter Blitar United.

“Selain bobotoh, saya juga orang Blitar asli. Sebenernya kalo dari sudut pandang saya, agak kecewa juga. Kenapa? Ya karena warga Blitar sendiri masih kangen dan pengen merasakan lagi atmosfer tribun stadion. Ya mungkin karena (Blitar United) ada masalah keuangan atau apa, jadinya dijual,” tuturnya.

Namun, walaupun sedikit mengecewakannya, ada hal yang masih bisa Jendral syukuri dari diakusisinya Blitar United oleh PT PBB.

“Tapi, saya juga bisa ngambil sisi positifnya. Soalnya, kan, itu buat pengembangan pemain muda (Persib). Itu sisi positifnya. Jadi manajemen  (Persib) nanti gak hanya mantau dari video kalo mau milih pemain, tapi langsung mantau dari lapangan.”

Tak Bisa Asal Mengakusisi
Eko Noer Kristiyanto atau akrab disapa “Eko Maung”, peneliti hukum di Kemenkumham, dalam esai berjudul “Menolak Persib B” yang terbit di Pikiran Rakyat menjelaskan bahwa setiap perubahan nama klub harus disahkan terlebih dahulu melalui Kongres PSSI. Selain itu, persoalan mengalihkan lisensi sebuah klub bukanlah sekadar urusan legal-formal yang terkait akusisi dan hal-hal administratif lainnya. Ada banyak proses yang mesti dilalui seperti serangkaian verifikasi, baik yang diatur dalam hukum komunitas sepakbola maupun hukum nasional.

Eko benar belaka. Salah satu proses verifikasi lisensi klub yang diatur oleh hukum komunitas sepakbola adalah Club Licensing  Regulations (CLR). Aturan CLR dibentuk FIFA pada tahun 2004, dan mulai diterapkan secara luas pada tahun 2016.

CLR menegaskan bahwa ada persyaratan minimal yang mesti dipenuhi sebuah klub sepakbola jika ingin berpartisipasi dalam kompetisi tingkat nasional, benua, atau dunia.

Syarat-syarat minimal yang mesti dipenuhi itu mencakup aspek keolahragaan, infrastruktur, personel, administrasi, hukum, dan keuangan. Sebuah klub harus memenuhinya sebelum benar-benar dinyatakan lolos verifikasi. Tujuan diterapkannya CLR adalah untuk menciptakan standar kualitas kompetisi yang baik.

Sulit dibayangkan proses-proses tersebut bisa dilalui dalam waktu kurang dari sebulan, seperti pada kasus Blitar Bandung United. Karena kenyataannya mereka sudah bisa tampil di kompetisi nasional Liga 2 musim ini.  Bahkan mereka dengan percaya diri, seperti yang diungkapkan Liestiadi usai laga melawan Persibat, mempersembahkan kemenangan pertama yang diraihnya untuk Kota Bandung. Ajaib.[]

Refrensi berita:
“Blitar United Dibeli PT PBB, Berubah Jadi Persib B”

(Visited 501 times, 1 visits today)

Meminati sepakbola yang berkisah. Balbliter's Sidekick.

Post a Comment

You don't have permission to register