Musik yang Menolong Pinto Wahin

Jose Manuel Pinto bukan nama asing bagi para suporter Barcelona. Pinto merupakan bagian dari kesuksesan sixtuplet gelar Barcelona pada tahun 2009 silam. Meski demikian, Pinto terbilang bukan pemain yang spesial. Pinto bahkan lebih banyak menjadi pelapis Victor Valdes selama di Barcelona. Pinto menjadi spesial justru karena kegiatannya di luar sepakbola.

Pinto memulai karier sebagai pesepakbola di akademi Real Betis. Pinto kemudian memulai debut di La Liga sebagai kiper pengganti saat melawan Santander di musim 1997/98. Tidak bisa menggeser posisi Toni Pratis di Betis, ia pun pergi ke Celta Vigo setahun setelahnya.

Kariernya membaik di Celta Vigo. Pinto menjabat sebagai kapten setelah tampil sebanyak 125 pertandingan di ajang La Liga.

Pada tahun 2008, Pinto dipinjamkan ke Barcelona, inilah barangkali titik tertinggi kariernya sebagai pesepakbola. Namun, Pinto ternyata menemui jalan yang terjal di klub berjuluk Blaugrana tersebut. Pinto lebih banyak menghangatkan bangku cadangan selama di Barcelona.

Kendati demikian, sosoknya tetap dicintai oleh para penggawa Barcelona. Bukan karena sepakbola, tapi karena kepiawaiannya dalam bernyanyi.

Selama berkarier di Barcelona, Pinto pernah menciptakan sebuah lagu hip-hop yang ternyata disukai oleh para pemain lain, termasuk Lionel Messi. Lagu berjudul “Nuestra B.S.O” itu menjadi lagu wajib yang selalu dinyanyikan para pemain Barcelona di ruang ganti.

“Semua pemain tahu apa yang aku lakukan. Mereka melihatku menekuri buku-buku tentang teknik rekayasa suara saat kami di pesawat,” ujar Pinto dikutip dari Billboard.

Pinto menyandang gelar sarjana teknik audio dan master di bidang music production. Pinto juga mendirikan label rekaman bernama Wahin Makinaciones selama masih aktif bermain di Barcelona.

Bagi Pinto, musik adalah penolong. Tak terhitung masa-masa sulit yang berhasil dilewatinya berkat musik.

“Musik telah membantuku menjadi atlet yang baik. Saat masih bermain di Divisi Utama, lalu mendapati hari yang buruk, musik adalah sarana eskapisme terbaik untukku,” ungkap Pinto.

Setelah kontraknya tidak di perpanjang oleh Barcelona pada tahun 2014, Pinto memutuskan untuk meneruskan impiannya menjadi musisi. Tahun 2016 menjadi tahun yang spesial bagi pria yang dikenal dengan rambut kepangnya itu. Pinto berhasil memenangi gelar Latin Grammy berkat andilnya dalam pembuatan album Amame Como Soy karya Niña Pastori.

Pinto juga membuat lagu berjudul “La Habana” yang dijadikan salah satu soundtrack film The Fast and The Furious. Pinto juga menuliskan lagu yang dibawakan oleh Ice Cube di film Ride Along 2.

Siapa sangka, dahulu orang mengenal Pinto hanya sebagai pemain pelapis dan pembuat onar di lapangan hijau, mengingat perkelahian-perkelahian yang ia lakukan dengan pemain lain. Setelah pensiun, ia berhasil menjadi bintang di dunia musik dengan karya-karyanya yang dipakai film Hollywood, juga tersohor di dunia musik Amerika Latin.

Kini, Pinto ingin benar-benar fokus di dunia musik. Sepakbola adalah masa lalu baginya.

“Aku sudah jarang mengikuti sepakbola. Saat aku sedang bekerja di studio, aku tak punya waktu untuk menonton pertandingan sepakbola. Aku fokus 100 persen di musik saat ini. Aku telah merasakan segalanya di sepakbola, kini saatnya aku merasakan itu semua di dunia musik. Aku ingin menikmati dunia musik sebagaimana dahulu aku menikmati sepakbola.”[]

(Visited 67 times, 1 visits today)

Hidup itu harus menganut prinsip gudetama, penganut kaum rebahan yang apatis

Post a Comment

You don't have permission to register