Ode untuk Francesco Totti

Bagi Walter Lapini, tanggal 28 Mei 2017 adalah hari yang spesial. Profesor Bahasa dan Sastra Yunani di Universitas Genoa itu, dengan menggunakan pseudonim Alvaro Rissa, menciptakan satu ode Latin untuk menyambut hari tersebut.

Pada hari itu, Francesco Totti memainkan pertandingan terakhir untuk AS Roma, satu-satunya klub yang dibelanya selama 24 tahun kariernya sebagai pesepakbola. Bagi Lapini, Totti merupakan Weltanschauung, filsafat hidup. Ode sepanjang 308 baris yang ia tulis dalam buku dwibahasa Latin-Italia berjudul Il cucchiaio di Dio (Cochlear Dei) menunjukkannya.

 

Cochlear Dei mengandung dua nomina. Cochlear adalah terjemahan dari il cucchiaio, secara harfiah berarti sendok. Di ranah sepakbola, cucchiaio merujuk cara Totti mencungkil bola untuk mencetak gol. Tendangan penaltinya ketika Italia mengalahkan Belanda di Piala Eropa tahun 2000 merupakan cucchiaio Totti yang paling terkenal. Dei adalah nomina genitif dari deus, yang berarti Tuhan atau dewa. Cochlear Dei diterbitkan oleh il melangolo (Genoa, 2017).

Ode adalah bentuk puisi pujian yang paling terkenal sejak era klasik. Penggunaannya dapat  dilacak pada sejumlah penyair Yunani dan Romawi. Secara historis, ode adalah jenis puisi lirik. Lirik dalam pengertian klasik berarti puisi yang dinyanyikan dengan iringan alat musik seperti lira, sitar atau barbitos. Fragmen 1 milik Sappho, penyair perempuan Yunani Kuno (lahir sekitar 630 SM), adalah salah satu ode yang paling terkenal dari periode tersebut.

Il cucchiaio di Dio. «Cochlear dei». Ode al capitano Totti

            Il cucchiaio di Dio. «Cochlear dei». Ode al capitano Totti

 

“Di atas takhtamu berhiaskan bunga-bunga, Aphrodite yang kekal,

Anak Zeus, yang menguntai bujuk-rayu: aku mohon kepadamu,

Jangan hancurkan semangatku, wahai Ratu,

Dengan dukacita yang menyakitkan.”

Demikianlah Sappho menulis stanza 1 fragmen 1. Dalam versi Yunaninya, tiga baris pertama stanza tersebut terdiri atas 11 silabel (hendekasilabel), baris terakhir terdiri atas 5 silabel (adonik). Pola tersebut kemudian disebut stanza sapphik, adjektiva sapphik tentu saja merujuk nama Sappho. Pola ini diteruskan penggunaannya oleh dua penulis puisi lirik Romawi Kuno yakni Catullus dan Horatius.

Catullus menulis dua puisinya, puisi 11 dan 31, dalam metrum sapphik (terjemahan Indonesianya bisa Anda baca di buku Puisi-Puisi Pilihan Catullus terbitan Gambang, 2019). Puisi 11 adalah puisi yang ditujukan kepada dua sahabatnya, Furius dan Aurelius. Sedangkan puisi 31 adalah saduran Latin atas puisi 51 Sappho. Horatius, penyair lirik Romawi setelah Catullus, mengerjakan lebih banyak puisi dalam metrum sapphik. Di buku pertama Carmina saja, Horatius menulis 10 puisi dengan metrum stanza sapphik.

Wawasan Walter Lapini tentu jauh lebih luas dari ilustrasi singkat di atas. Namun, karena Lapini menulis ode dalam bahasa Latin, kilasan singkat perpindahannya dari khazanah Yunani ke khazanah Romawi patut ditunjukkan. Di bagian pengantar, Lapini menegaskan bahwa hendekasilabel yang ia gunakan berbeda dari pola umum Horatian seperti yang ada di buku pertama Carmina.

Lapini membuka Cochlear Dei dengan dua stanza yang menunjukkan permohonan kemuliaan bagi nama-nama sejumlah pemain besar seperti Di Stefano, Messi, Socrates, Zico, Eusebio, hingga Platini. Meski demikian, bagi Lapini, tak ada pemain selama satu abad terakhir yang mampu menyaingi Totti. “Papa et ipse se voluit vocari nomine Tottis, [Bahkan Paus sendiri mau dipanggil dengan nama Totti], tulisnya. Francesco adalah serapan Italia nama Paus Fransiskus.

Pada stanza keenam, Lapini menulis, “menghitung gol-golmu sama seperti menghitung ikan-ikan di laut, bintang-bintang di langit, batu-batu di gunung…” Tentu baris-baris tersebut adalah hiperbola, sepanjang kariernya, Totti mencetak 307 gol untuk AS Roma di seluruh kompetisi, dan meraih satu gelar Serie A pada tahun 2001.

Sanjungan-sanjungan semacam itu akan terus kita baca di stanza-stanza selanjutnya: Totti lebih terkenal daripada tokoh-tokoh dunia, Totti mampu mencetak gol dengan semua bagian tubuhnya, dan seterusnya.

Pujian-pujian seperti itu adalah salah satu kualitas yang dimiliki oleh Cochlear Dei. Kualitas lain adalah kemampuan Lapini memadatkan peristiwa historis menjadi baris-baris singkat untuk menjaga kekokohan struktur puisinya. Sebagai contoh, pada tahun 2013, seorang wartawan France Football meminta Totti untuk menyebutkan satu kata untuk mendefinisikan Lazio.

Niente,” jawab Totti, “Bukan apa-apa.” Penggalan tersebut dimasukkan Lapini dalam baris 123-124 odenya: quidve uti, quid sit Latium rogatus, dixerit “est nil”. Contoh lain, di stanza ke-45, Lapini memasukkan peristiwa satu-satunya scudetto bagi Totti dan ketiga bagi AS Roma. Di stanza-stanza setelahnya, Lapini menampilkan kembali peristiwa-peristiwa seputar scudetto, termasuk janji Sabrina Ferilli untuk menari bugil di Circo Massimo.

Meski memasukkan juga sejumlah peristiwa penting Totti bersama tim nasional Italia, ode tersebut dengan jelas ditulis untuk Totti sebagai kapten AS Roma. Hal ini terbaca dalam absennya pujian dan peringatan atas momen gelar juara dunia yang diraih Totti bersama timnas Italia pada tahun 2006. Sebaliknya, momen 2006 yang diabadikan Lapini dalam puisinya adalah cedera yang dialami Totti.

Cochlear Dei ditutup dengan beberapa stanza pujian untuk Ilary Blasi, istri Totti. Di salah satu stanza, Lapini menulis bahwa bahkan dewi Venus pun iri terhadap kecantikan agung Ilary: “Hilaris, sublimi cuius unius decori invideret aemula Cypris.”

 “Totti adalah salah satu kehadiran yang telah menolongku untuk hidup,” kata Lapini dalam salah satu wawancara dengan Democratica tak lama setelah buku puisinya terbit. Bagi seorang romanista seperti Lapini, pengakuan tersebut sangat wajar. Semua romanisti bisa mengungkapkan hal yang sama, tetapi hanya Lapini yang menyampaikan ungkapan terima kasihnya melalui sebuah pujian dalam bahasa Latin, bahasa yang menjadi saksi dan bukti kejayaan Roma di masa silam, untuk mengabadikan Roma masa kini di bawah pemerintahan raja kedelapan bernama Francesco Totti.[]

(Visited 498 times, 2 visits today)

Mario F. Lawi adalah seorang interista, menyukai sepak bola dan sastra Italia.

Comments
  • Avatar
    Walter Lapini

    Articolo semplicemente fantastico. Grazie!
    Walter Lapini (alias Alvaro Rissa)

    01/07/2020
Post a Comment

You don't have permission to register