Persib dan Bobotoh Kudu Ngadu Bako

Sudah sepekan saya malas berselancar di Twitter. Sekarang, saya membuka Twitter hanya untuk mencari tahu topik terhangat di menu Explore karena kebutuhan pekerjaan, atau sekadar membagikan foto dan video tak penting. Jika sudah selesai, saya segera tutup Si Burung Biru itu. Tak pernah lagi berlama-lama mengusap layar untuk memperhatikan topik demi topik yang dibincangkan para penggunanya.

Sebenarnya banyak sebab yang membuat Twitter semakin tak menarik bagi saya. Salah satunya adalah banyaknya pertengkaran bising yang memenuhi lini masa. Keributan yang sebenarnya jarang menghasilkan apa-apa selain memuaskan diri sendiri, semacam onani.

Ribut-ribut yang paling sering saya jumpai di Twitter saat ini adalah soal admin Persib. Bobotoh ramai-ramai mengkritik—ada juga yang merundungi—admin Persib karena konten yang dinilai jauh dari layak.

Ribut soal admin Persib sebenarnya bukan hal baru di dunia bobotoh. Soal ini sudah berlangsung sejak sekitar tiga tahun lalu. Sialnya, tak pernah benar-benar berakhir. Bisa dibilang setiap musim selalu saja ada momen ketika admin Persib diserang ramai-ramai oleh bobotoh.

Akan tetapi, yang saya rasakan, keributan soal admin Persib musim ini adalah yang paling intens dibandingkan musim-musim sebelumnya. Menurut saya, ini terjadi karena ketiadaan kompetisi akibat pandemi. Energi besar bobotoh yang biasanya dilampiaskan untuk menonton pertandingan Persib, kini tak tersalurkan. Energi itu pun seluruhnya dipakai untuk memperhatikan Persib di lapangan maya, media sosial.

Saking intensnya, saya melihat penilaian dari bobotoh terhadap konten Persib pun sudah tak jernih lagi. Memang banyak sekali konten Persib yang mesti dikritik karena gak jelas (geje), tata kalimatnya amburadul, hingga bernuansa rasialisme. Tapi, bukan berarti seluruhnya pasti salah hingga layak diolok-olok.

Contohnya saat akun Twitter Persib mengunggah video cuplikan gol Beckham Putra di laga persahabatan melawan Persis Solo, 22 Juli 2020 lalu. Tanpa mencari tahu lebih dahulu, banyak bobotoh menuduh video itu dicolong dari Sambernyawa TV, media Persis Solo.  Padahal, Persib memang punya rekaman video pertandingan itu.

Contoh kedua adalah saat media resmi Persib menggunakan kata ‘Ngaku’ di salah satu judul berita Persib. Banyak bobotoh menyoroti diksi itu karena dianggap tak baku dan tak sesuai dengan ketentuan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Banyak bobotoh yang mendadak jadi Ivan Lanin-Ivan Lanin baru saat menanggapi berita itu.

Kata ‘Ngaku’ memang tidak ada di KBBI. Tapi, pertanyaan petingnya, apakah sebuah media wajib mengikuti kaidah KBBI?

Media bisa dengan bebas memilih kata yang menjadi gaya bertuturnya. Hal itu berkaitan erat dengan segmen pembaca yang ingin dijangkau, atau dengan ideologi yang diusung media tersebut.

Contoh paling gampang, silakan lihat tulisan-tulisan di Vice Indonesia. Vice sering sekali menggunakan diksi-diksi bersifat kasual—tentu saja tak sesuai KBBI—yang mungkin biasa kita gunakan saat berbincang dengan teman di tongkrongan. Saya menilai hal itu berkaitan erat dengan segmen pembaca yang ingin dijangkau Vice, anak-anak muda.

Gaya bertutur hingga pemilihan kata yang menjadi ciri khas media biasa disebut selingkung.

Dalam kasus media Persib, sangat terbuka kesempatan bahkan diperlukan sekali untuk memiliki selingkung. Segmen pembaca Persib mayoritas adalah bobotoh yang berasal dari Jawa Barat, penutur bahasa Sunda. Persib, misalnya, bisa memasukkan istilah-istilah bahasa Sunda ke dalam tulisan atau penjudulan berita, agar proximity (kedekatan) secara emosional dengan bobotoh semakin kuat terjalin.

Selain dua hal di atas, saya juga tak sepakat jika segala kebobrokan konten Persib sepenuhnya adalah tanggung jawab admin. Admin memang target paling mudah untuk disasar bobotoh. Namun, yang perlu diketahui, proses produksi konten di sebuah perusahaan yang memiliki media tidaklah tunggal.

Banyak orang terlibat dalam menentukan konsep, memilih cara menyampaikan, hingga memutuskan pukul berapa konten itu ditayangkan. Admin biasanya hanya bertindak sebagai eksekutor akhir berdasarkan kesepakatan-kesepakatan yang sudah dibuat banyak orang tadi.

Persoalannya, dinamika di balik layar seperti itu tidak diketahui bobotoh selama ini. Dan memang bobotoh tidak ada keperluan juga untuk mengetahuinya. Tapi, mengingat intensnya kritik terhadap konten Persib selama ini, saya rasa Persib dan bobotoh sudah saatnya duduk bersama.

Saya memperhatikan perbincangan bobotoh terhadap konten Persib selama ini, baik itu di Twitter atau beragam podcast  media Pepersiban, sifatnya hanya spekulasi. Meraba-raba. Coba menebak-nebak apa yang sebenarnya terjadi, mengapa Persib bisa punya konten seburuk itu, dan lain-lain.

Sudah saatnya Persib mengajak bobotoh duduk bersama, ngadu bako, agar terjadi komunikasi dua arah. Bobotoh jadi bisa lebih tahu bagaimana rumitnya produksi sebuah konten, sebaliknya Persib pun bisa mendengarkan keinginan-keinginan dari bobotoh.

Selama ini, saya banyak sekali mendengar masukan-masukan bagus dari bobotoh untuk kemajuan konten Persib. Sayangnya, segala masukan itu hanya berputar di kalangan bobotoh saja. Entah tersampaikan atau tidak ke pengurus-pengurus Persib. Pertemuan dua belah pihak akan menghubungkan segala keterputusan itu.

Mungkin ketika kedua belah pihak sudah bertemu, semua bisa ditemukan solusinya. Tak ada lagi keributan di Twitter yang membuat saya malas berlama-lama di lini masa.[]

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

(Visited 362 times, 1 visits today)

Meminati sepakbola yang berkisah. Balbliter's Sidekick.

Post a Comment

You don't have permission to register