Suporter Harus Sembuh dari Kecanduan Sepakbola

Sepakbola bukan saja seakan menjadi agama baru, melainkan candu yang makin hari makin memikat dan membunuh. Seakan-akan hidup terasa hampa tanpa menggumuli olahraga rakyat ini. Dari suporter, pedagang, juru parkir, ormas, dan elemen masyarakat lain menjadi ketergantungan kepadanya.

Kolegaku sering berucap, “Aing mun Persib eleh sok hese sare, rungsing saminggueun, jeung hoream nempo medsos”. Keluhan di bawah alam sadar itu mengindikasikan ia telah kecanduan kepada Persib. Ketika kesebelasan favoritnya gagal meraih kemenangan, ia sakau.

Menurutku, kecanduan kepada sepakbola ini sudah tidak tertolong dan berbuntut fantasime buta. Hal ini juga yang membuat seseorang dengan nekat berani membunuh, berontak, dan tanpa tanggung jawab melakukan hal-hal yang melanggar norma masyarakat.

Bahaya candu

Candu dalam KBBI artinya getah kering pahit berwarna cokelat kekuning-kuningan yang diambil dari buah Papaver Somniferum, dapat mengurangi rasa nyeri dan merangsang rasa kantuk serta menimbulkan rasa ketagihan bagi yang sering menggunakannya.

Kecanduan bukan perihal sepele.  Kolegaku di Rumah Cemara, organisasi berbasis komunitas yang fokus pada bidang HIV-AIDS, NAPZA dan kaum termarginalkan lainnya, banyak bercerita bagaimana pahitnya menderita kecanduan putau. Saking parahnya, ia rela melakukan apa pun. Jika diberi syarat harus makan dulu kotoran untuk mendapatkan putau secara gratis, tanpa pikir panjang ia akan segera melakukannya.

Efek kehancuran akibat candu dimulai dari rusaknya hubungan dengan keluarga, orang yang disayangi, teman, lingkungan, dan yang paling besar adalah kehilangan kepercayaan diri. Padahal, kepercayaan adalah sesuatu yang penting. Sebagaimana disebut dalam pepatah Jawa, “Kelangan sakehe raja brana ateges ora kelangan apa-apa, kelangan nyawa ikut mung kelangan separo, kelangan kepercayaan iku tegese kelangan sakabehe”. Artinya, kehilangan semua harta benda artinya tidak kehilangan apa-apa, kehilangan nyawa artinya hanya kehilangan separuh saja, kehilangan kepercayaan artinya kehilangan semuanya.

Kebutuhan manusia akan kebahagiaan yang dipengaruhi oleh hormon endorphin, dopamine, dan serotonin, membuat manusia seakan tidak ingin sembuh dari kecanduan. Lantas, kenapa suporter Indonesia, walaupun tidak menggunakan narkoba, bisa disebut kecanduan? Karena sepakbola mampu menghasilkan ketiga hormon tersebut.

Kecanduan sepakbola Indonesia meski bobrok

Kebanggaan berlebihan dan angkuh ketika tim kesayangan menang adalah tabiat khas suporter. Bahkan  tabiat itu, yang paling menyedihkan, kerap berujung pada fanatisme buta untuk menyingkirkan suporter lawan dengan cara apa pun. Tak ayal  ujaran kebencian antarsuporter hingga pembunuhan kerap terjadi.

Dilansir dari Kompas, data Litbang Save Our Soccer (SOS) per September 2018 menunjukkan total 76 suporter sepakbola tewas sejak 1994. Kita seakan lupa bahwa salah satu tujuan sepakbola adalah untuk mempersatukan manusia. Jules Rimet membuat Piala Dunia sebagai upaya mempersatukan umat manusia di tengah kecamuk Perang Dunia.

Kajian yang dilakukan Manuel L. Saint Martin, ahli psikiatri University of Southern California, dengan kerangka psikologi modern mengatribusikan jenis kekerasan kelompok suporter ini dengan gangguan mental, gangguan kepribadian, dan tekanan psikologis yang ekstrem. Jadi, kekerasan jenis ini memiliki akar pada rasa frustrasi sebagai efek tekanan tersebut.

Sedangkan William B. Swann dari University of Texas bersama beberapa koleganya menyatakan bahwa hal ini bisa dijelaskan dengan konsep peleburan identitas (identity fusion). Konsep ini dikenal sebagai deindividualisasi atau keadaan di mana seseorang kehilangan kesadaran akan diri sendiri (self awareness) dan kehilangan pengertian evaluative terhadap dirinya (evaluation apprehension) ketika berada di dalam sebuah kelompok. Ini memungkinkan seseoraang melakukan hal-hal biasa hingga ekstrem atas nama solidaritas kelompok.

Dalam peleburan identitas, individu memandang sesama anggota kelompoknya sebagaimana ikatan emosional dengan anggota keluarga. Contohnya ketika ada bobotoh yang dipukuli aparat di sebuah pertandingan, otomatis individu lainnya akan terpancing menyerang aparat karena merasa bobotoh tersebut adalah bagian dari mereka. Begitu pula ketika almarhum Rangga tewas dipukuli di GBK, Viking menganggap seluruh The Jak adalah musuh yang harus dimusnahkan, sebaliknya The Jak pun begitu ketika Haringga tewas di GBLA.

Kebutralan suporter juga bisa terjadi karena  frustrasi akibat (merasa) kalah di kehidupan nyata. Putus cinta, himpitan ekonomi, broken home, bisa menjadi pemicunya.

Ironisnya, kecanduan yang merusak ini terjadi hanya untuk menyaksikan sepakbola Indonesia yang pengelolaannya sendiri bobrok.

Contoh, PSSI sering memberikan denda dengan jumlah yang besar kepada pemain, klub, atau suporter tanpa transparansi kepada kepada masyarakat luas. Di sisi lain, ketika menangani kasus mafia sepakbola, PSSI tak segarang saat mendenda suporter.  Apa mafia sengaja dilindungi? Entahlah.

PSSI juga sering mengeluarkan regulasi yang malah membatasi kreativitas suporter di tribun. Belum lagi carut-marutnya mereka dalam menyusun jadwal pertandingan. Keajaiban kadang muncul begitu saja dari bergantinya jadwal pertandingan dan venue bermain secara mendadak.

Masalah wasit yang kepemimpinannya sering kontroversial saat memimpin laga juga masih terjadi. Sepakbola menjadi alat politik praktis sudah bukan hal yang aneh.

Anda dapat berkoar-koar menentang segala kebobrokan ini. Anda dapat berteriak “Kick Politic Out of Football”.  Tapi, pada akhirnya, Anda tetap saja wakas (sakau), membutuhkan zat sepakbola untuk memenuhi kebutuhan endorfin Anda.

Suporter tak pernah benar-benar bersatu untuk mau memboikot PSSI dan sepakbola Indonesia di tengah kebobrokannya. Padahal, kekuatan penggerak industri ada pada suporter, bukan pada investor.

Namun demikian, masalah ini bukan hanya menjadi tanggung jawab suporter, melainkan juga seluruh masyarakat Indonesia. Sulit memisahkan masalah yang ada dalam sepakbola dengan kehidupan masyarakat itu sendiri. Sebagaimana kata Beckenbauer, “Sepakbola adalah cermin sebuah bangsa”.

Aku mengingat apa yang dikatakan mendiang Ginan Koesmayadi, vokalis band punk Jeruji dan juga pendiri Rumah Cemara, “Cahaya yang paling terang terkadang muncul dari tempat paling gelap”. Dari kegelapan semoga kelak sepakbola Indonesia menemukan cahaya terang meski entah kapan cahaya itu akan datang.[]

(Visited 1,169 times, 1 visits today)

Sepakbola, punk, dan ugal-ugalan. Persib, Rumah Cemara, dan Amorfati.

Post a Comment

You don't have permission to register