Seorang Maestro di Foto Natal: Mengenang Luigi Simoni

Luigi Simoni adalah juru selamat bagi tim-tim kecil, itulah prestasinya yang paling mengagumkan. Saat kebanyakan orang lebih memperhatikan persaingan tim-tim papan atas Serie A, ia membuat kita ingat bahwa ada senyum anak-anak Cremonese dan Pisa ketika tahu klub-klub kota mereka bisa promosi ke Serie A.

Gigi, sapaan akrab Simoni, telah menukangi 17 klub sepanjang karier kepelatihannya dengan tujuh kali membawa klub Serie B promosi ke Serie A, dan sekali dari Serie C ke Serie B.

Gigi lahir di Crevalcore, sebuah komune di Bologna, pada 22 Januari 1939. Ia meninggal di Pisa, pada 22 Mei 2020, ditemani Monica, istrinya, tepat di saat Internazionale, satu-satunya klub yang ia bawa meraih Piala UEFA di musim 97/98, sedang merayakan peringatan 10 tahun trigelar klub pada musim 2009/2010.

Meski berjasa terhadap banyak klub, izinkan saya mengenang Gigi sebagai seorang interista seperti anak-anak Cremonese dan Pisa mengenang pelatih yang begitu berjasa membawa klub-klub tercintanya berlaga di Serie A.

Di luar sihirnya bagi klub-klub kecil, Gigi adalah anugerah bagi Inter dan para interisti pada dekade 90-an. Inter tak punya satu pun gelar domestik selama masa tersebut. Sebaliknya, di level Eropa, La Beneamata tiga kali meraih gelar Piala UEFA.

Jika boleh agak berlebihan, bagi seorang interista yang baru mulai menonton Inter sejak tahun 1996, Gigi adalah satu-satunya pemberi kenangan manis di antara begitu banyak dukacita selama dekade tersebut, dari raibnya kesempatan scudetto hingga cedera Ronaldo.

Inter awal musim 97/98 adalah sebuah fenomena, sebuah tim yang dibangun untuk merebut trofi apa pun yang mungkin, termasuk mengakhiri masa penantian scudetto. Moratti menggelontorkan dana setara 72,70 juta Euro untuk mendatangkan pemain-pemain yang dibutuhkan klub, termasuk Ronaldo, Recoba, dan Taribo West.

Meski boros, Inter hanya berhasil meraih gelar Piala UEFA pada musim tersebut setelah mengalahkan Lazio yang ditukangi Sven-Goran Eriksson dengan skor 3-0 di partai final. Di ajang Serie A, Inter disalip Juventus di derbi penentuan. Meski di akhir musim Gigi diganjar Panchina d’oro, gelar untuk pelatih terbaik Serie A musim tersebut, Gigi tetap menginginkan scudetto, gelar yang tak pernah ia raih selama berkarier sebagai pemain maupun pelatih.

Satu-satunya gelar yang ia peroleh sebagai pemain adalah Coppa Italia 61/62 ketika berseragam Napoli.

Pada musim 97/98, Inter menjalani dua laga penentuan. Satu derby d’Italia sebagai salah satu partai penentu juara Serie A, yang lainnya final kejuaraan Eropa melawan Lazio. Menurut Javier Zanetti dalam autobiografinya Giocare da uomo, partai melawan Juventus pada 26 April 1998 adalah salah satu partai yang paling diperdebatkan.

“Saya tak mau melihatnya selama bertahun-tahun,” ujar Gigi menyinggung insiden paling terkenal pada derbi tersebut.

Saat itu, Inter sedang tertinggal 1-0 dan berusaha menyamakan kedudukan. Ronaldo, yang berada di kotak penalti Juventus dan telah meloloskan bola untuk membuka ruang tembak, diadang oleh Iuliano. Jika lolos dari adangan Iuliano, Ronaldo punya kesempatan besar untuk mencetak gol sehingga jalannya pertandingan dan persaingan di papan klasemen berubah. Penalti yang diharapkan tidak diberikan Piero Ceccarini yang memandu laga tersebut. Pertandingan berakhir dengan kekalahan 1-0 bagi Inter, dan Juventus merebut scudetto.

“Pertandingannya 11 melawan 11, bukan 12 melawan 11,” ujar Ronaldo dalam wawancara dengan TV Rai 3. Kekecewaaan Ronaldo juga dirasakan para interisti saat itu. “Tentu saja, itu jelas sekali penalti, tetapi penalti selalu difavoritkan kepada Juventus,” lanjut Ronaldo mengacu kepada penalti yang diperoleh Del Piero di pertandingan yang sama.

“Ceccarini menghancurkan hidupku dengan kesalahan tersebut. Harusnya aku meraih scudetto selain Piala UEFA. Harusnya aku masih tetap bersama anak-anak asuhku di Inter untuk waktu yang lebih lama,” tulis Zanetti menirukan jawaban Gigi di salah satu wawancara.

Zanetti menyebut bahwa final Piala UEFA pada 6 Mei 1998 di Paris adalah momen balas dendam. Di salah satu pertandingan yang paling diingat karena duel antara Ronaldo dan Nesta tersebut, Inter sukses meraih trofi UEFA ketiganya. Gol cepat Zamorano di babak pertama dan dua gol tambahan masing-masing dari Zanetti dan Ronaldo di babak kedua, membuat para pemain dan tifosi Inter bisa sedikit melupakan rasa sakit hati.

Gigi hanya bertahan 11 pekan di musim 98/99. Gigi diberhentikan sehari setelah kemenangan susah payah melawan Salernitana. Gigi pergi meski masih dicintai para tifosi.

“Di antara trofi dan kontroversi, tahun 1998 tetap tak terlupakan. Gigi Simoni kelak meninggalkan klub, membawa serta karakternya sebagai seorang gentleman dan maestro sepak bola,” kenang Zanetti.

Vito Galasso, dalam buku L’Inter dalla A alla Z. Tutto quello che devi sapere sul mito nerazzurro, menulis bahwa Gigi merasa terhormat saat diminta bertanggung jawab melatih Ronaldo pada 1997.

Galasso benar. Tak ada yang akan menolak melatih salah satu pemain terbaik sepanjang sejarah sepak bola pada masa keemasannya.

Namun, kehormatan tidak hanya jadi milik Gigi. Ronaldo menulis dengan begitu hangat tentang Gigi dan kebersamaan mereka di Inter.

“Bagiku, Gigi Simoni bukan sekadar seorang pelatih. Jika aku memikirkannya sekarang, aku memikirkan seorang yang bijak dan baik, yang tak memerintahmu untuk melakukan sesuatu, melainkan menjelaskan kepadamu mengapa hal itu penting. Aku memikirkan seorang maestro, seperti yang ada di foto yang dibikin saat Natal: ia dirigen, kami orkestra. Demikianlah aku memikirkannya, dengan senyumnya, suaranya yang selalu tenang, pesan-pesannya yang berharga,” tulis Ronaldo sebagai ungkapan dukacitanya.

Konser yang berhasil selalu menyisakan kesan: kebahagiaan yang bertahan jauh lebih lama, bahkan bertahun-tahun setelah sang maestro meninggalkan panggung pertunjukan. Itulah juga yang ditinggalkan Gigi bagi para interisti.

Addio e grazie moltissime, Maestro![]

(Visited 215 times, 1 visits today)

Mario F. Lawi adalah seorang interista, menyukai sepak bola dan sastra Italia.

Post a Comment

You don't have permission to register