Sepakbola Bukan Segalanya

Aku terbangun dengan rasa nyeri luar biasa pada kedua kakiku. Waktu menunjukkan pukul 10 malam, operasi tahap pertama pada kedua kakiku baru saja tuntas. Kepalaku masih agak pengar ketika dokter bedah menyodorkan secarik formulir kesepakatan.

Namaku, Eartha Cumings, tertera di formulir itu. Dan isi kesepakatan pada formulir itulah yang membuatku tak akan pernah melupakannya.

“Otot kaki Anda terkena penyakit compartment syndrome. Kami harus segera melakukan operasi lagi. Dan jika operasinya gagal, kami meminta izin untuk mengamputasi kedua kaki Anda dengan menandatangani formulir ini,” ucap dokter.

Air mata mulai meleleh dari kedua mataku. Aku bingung dan bertanya-tanya dalam hati, “Mengapa ini bisa terjadi? Bagaimanapun, kau tak boleh memotong kedua kakiku!”

Aku tahu bagaimana berbahayanya penyakit ini. Compartment syndrome adalah keadaan saat pendarahan atau pembengkakan terjadi di dalam lapisan otot yang tertutup. Keadaan ini menyebabkan aliran oksigen ke otot menjadi terhambat. Jika tidak segera diatasi, penyakit ini bisa menyebabkan kerusakan dan kematian jaringan otot.

Namun tetap saja, membayangkan hidup tanpa kedua kaki adalah mimpi buruk yang paling kutakutkan. Usiaku masih 17 tahun dan masa depanku masih panjang. Ditambah lagi, kakiku adalah aset utama untuk meraih mimpiku menjadi pesepakbola.

Pada akhirnya, operasi lanjutan tetap harus dilaksanakan dan aku mesti siap menanggung semua risikonya.

Mengubah Pandangan Hidupku
Aku lahir di Edinburgh, Skotlandia, pada 11 Juni 1999. Aku sudah menggandrungi sepakbola sejak usia lima tahun. Aku bahkan sampai bergabung dengan sebuah tim anak-anak di Edinburgh kendati harus bermain dengan anak laki-laki di tim itu. Posisiku adalah penjaga gawang.

Pada usia 10 tahun, aku direkrut oleh tim muda perempuan Spartans FC. Empat tahun kemudian, aku bergabung ke tim senior Spartans FC. Ya, aku sudah mencicipi karier profesional dan berlaga di Liga Super Perempuan Skotlandia sejak usia 14 tahun. Penampilanku yang semakin berkembang membuatku lekas naik kelas.

Aku banyak bertemu pemain hebat di tim senior Spartans. Tapi, Rachel Harrison adalah pengecualian. Selain hebat, Harrison sering memotivasiku untuk terus meningkatkan kualitas. Ia tak pelit untuk membagikan pengalamannya yang berlimpah kepadaku.

“Teruslah bekerja keras. Tapi pertama dan terutama, nikmatilah prosesnya,” katanya pada satu waktu.

Masukan-masukan dari Harrison amat berguna bagiku yang sedang antusias meraih mimpi menjadi penjaga gawang yang hebat. Hasilnya pun mulai terlihat ketika Anna Signeul, pelatih Timnas Perempuan Skotlandia, memanggilku untuk bergabung ke Timnas pada Januari 2014.

Jangan tanya perasaanku saat itu, tentunya aku sangat senang. Kepada media, Harrison menyanjungku setinggi langit atas pencapaianku ini.

“Aku senang dengan pencapaian Eartha. Dia adalah perempuan muda yang percaya diri dan punya potensi besar. Tentunya aku juga senang dia adalah bagian dari keluarga besar Spartans FC saat ini,” tutur Harrsion .

Usai empat tahun membela Spartans, aku bergabung dengan tim perempuan Bristol City pada musim panas 2018. Tak seperti di Spartans, aku harus membagi fokus antara kuliah dan sepakbola  selama di Bristol. Hal ini sangat berdampak pada menurunnya performaku di atas lapangan.

Aku hanya bermain dua kali untuk Bristol sepanjang musim 2018/19. Pertama di ajang Continental Tyres League Cup dan satu lagi di ajang FA Cup. Bahkan, debutku bersama Bristol di Continental Tyres League Cup terbilang mengecewakan.

Saat itu, kami bertanding melawan Aston Villa. Hujan deras turun sepanjang pertandingan dan lapangan menjadi licin. Pada saat pemain Aston Villa melakukan serangan, aku terpeleset sehingga gol pun tercipta dengan mudahnya.  Aku amat malu dengan kesalahan konyol yang kulakukan itu meskipun akhirnya kami tetap memenangi pertandingan.

Payahnya penampilanku membuat pelatih lebih memercayakan posisi penjaga gawang utama kepada Sophie Baggaley. Terus terang, menerima kenyataan sebagai penjaga gawang cadangan adalah hal yang sulit untukku. Aku harus punya tenaga ekstra untuk terus memotivasi diri pada setiap  sesi latihan sambil menyadari bahwa aku hanya akan duduk di bangku cadangan di pertandingan akhir pekan nanti.

Perlu kau ketahui bahwa, dibandingkan pemain cadangan lain, penjaga gawang cadangan jauh lebih sulit mendapatkan kesempatan bermain. Jika kau bukan penjaga gawang, pelatih mungkin bisa memasukkanmu pada lima atau sepuluh menit terakhir pertandingan. Sesuatu yang tidak mungkin terjadi padaku kecuali penjaga gawang utama dilanda cedera.

Musim panas 2019 adalah tahun keduaku di Bristol. Menyongsong  kompetisi musim 2019/2020, aku memutuskan untuk jeda sejenak dari kuliah demi fokus kepada karier sepakbolaku. Tentunya, aku berharap bisa kembali ke performa terbaik dan kesempatan bermain akan lebih banyak didapatkan olehku.

Namun, apabila harapan itu tidak terjadi, aku sudah sangat siap menerima kenyataan. Bukan karena aku sudah terbiasa menjadi cadangan di musim sebelumnya, melainkan karena aku teringat dengan pengalaman beberapa tahun silam saat terkena penyakit  compartment syndrome yang nyaris merenggut kedua kakiku.

Risiko amputasi jika operasi terhadap kakiku gagal memang sempat membuatku ketakutan tidak akan bisa bermain sepakbola lagi.  Aku adalah salah satu orang yang beruntung karena akhirnya dokter berhasil menjalankan operasi dengan lancar sehingga kedua kakiku tetap utuh.

Selama masa pemulihan, aku sempat menghabiskan waktu dengan terbaring di ranjang Rumah Sakit selama sebulan penuh. Setelahnya, seperti anak kecil, aku mulai latihan berjalan lagi sedikit demi sedikit.

Proses inilah yang paling menguras energiku baik secara fisik maupun mental. Sebuah proses yang penuh dengan rasa sakit dan menghabiskan waktu berbulan-bulan lamanya. Berawal dari seorang yang sangat sehat kemudian menjadi payah hanya untuk melangkahkan kaki dari dinding ke dinding di kamarku, rasanya amat sulit dipercaya.

Mengingat  lagi segenap pengalaman itu membuatku sadar bahwa hidupku jauh lebih berharga dibandingkan sekadar perkara sepakbola.

Bisa kembali berjalan dengan normal saat ini adalah anugerah yang sangat besar. Dan jika direnungkan lagi, bisa  duduk di bangku cadangan saja sebenarnya adalah prestasi besar untukku pribadi. Maka apapun yang terjadi di kompetisi nanti, satu yang pasti, aku harus selalu bersyukur.[]

Referensi:
Bristol City’s Eartha Cumings on Her Battle – Telegraph
Your ego has to be left – The Guardian
Compartment Syndrome – NHS
Scottland Spartans Trio – Spartans FC Women

(Visited 84 times, 1 visits today)

Meminati sepakbola yang berkisah. Balbliter's Sidekick.

Post a Comment

You don't have permission to register