Sepakbola di Tengah Gelombang Perlawanan

Pada pertandingan sepakbola amatir di kota Timbuktu, Mali, seorang penendang penalti mengambil ancang-ancang sementara penjaga gawang di hadapannya bersiap dengan merentangkan tangan. Wasit kemudian meniup peluit namun tak ada pemain yang bergerak. Ternyata, semua sedang menunggu seekor keledai yang tiba-tiba melintas di depan gawang.

Setelahnya, permainan diteruskan kembali dan gol tercipta. Seorang anak, dengan nama punggung “Messi”, merayakan golnya dengan membentuk lambang hati menggunakan tangan. Kawan satu timnya berlarian seperti burung meluncur. Anak-anak dari kesebelasan lawan, sementara itu, menutupi kesedihan di wajah masing-masing.

Kedua kesebelasan memeragakan permainan yang menghibur: liak-liuk giringan, terjangan bersih, kiriman umpan silang, operan satu-dua, terobosan, dan sapuan jauh. Semua itu disaksikan oleh segelintir penonton di luar lapangan.

Akan tetapi, tidak ada bola di sana. Mereka hanya mengandalkan imajinasi kolektif. Sepakbola, bersama hal yang dianggap berbau asing lainnya, telah dilarang oleh penjajah di sana.

Dua milisi yang bermuka masam seakan-akan dihajar oleh komandan mereka belum lama ini atau karena hal menyedihkan lain, mereka mengitari lapangan dengan mengendarai motor dan tidak mendapatkan apa-apa untuk dihajar.

Potongan adegan itu saya ceritakan ulang dari film Timbuktu (2014) yang disutradarai Abderrahmane Sissako. Cerita dalam film ini mengambil latar Timbuktu yang diduduki oleh milisi ISIS. Ozi, kawan saya, memuji potongan adegan itu secara hiperbolis, “Timbuktu adalah juara Piala Dunia sepakbola tanpa bola.”

Merayakan perlawanan dengan sepakbola
Pada kenyataannya, sepakbola seringkali mengambil peran dalam sebuah perlawanan. Konon, kemunculan permainan ini pun bermula dari prajurit pemenang perang yang iseng menendang-nendang kepala prajurit yang kalah.

Sepakbola, seperti kesenian, adalah medium penawaran gagasan yang tidak pernah selesai. Bermain sepakbola di tengah situasi kisruh bagaikan membiakkan lele di empang keruh, sering berhasil mengatasi masalah.

“Ramang kecil, Rudi kecil menggiring bola di jalanan ini,” kata Iwan Fals dalam lagu “Mereka di Jalan Ini”. Lagu ini berkisah soal masyarakat yang termarjinalkan di kota-kota besar yang ripuh. Iwan Fals tahu kalau anak-anak membayangkan diri menjadi pemain sepakbola hebat di jalanan untuk mengalihkan perhatian mereka dari kerasnya kehidupan.

Saat gelombang demonstasi berlangsung di Jakarta bulan September lalu,  beredar video yang menunjukkan sekelompok anak-anak bermain bola di tengah jalan tol yang kosong. Mereka tidak perlu tahu tuntutan demonstrasi, cukup riang gembira saja menendang-nendang bola plastik. Itu sudah cukup menghibur mereka sekaligus mengingatkan publik akan kebutuhan ruang terbuka dan janji politik Anies Baswedan ihwal pembangunan stadion yang tak  terealisasi hingga saat ini.

“Terima kasih buat para mahasiswa yang di depan DPR tadi, berkat kalian kami bisa mendapatkan lapangan sepakbola yang sangat susah diwujudkan oleh janji-anji manis para calon dan Gubernur DKI selama ini,” cuit akun Mafiawasit di akun Twitter-nya sembari mengunggah video tersebut.

Pada demonstrasi lain di Iraq, tiga-empat remaja dengan santai saling mengumpan bola ditemani alunan musik. Tepat di samping mereka, seorang remaja lain sedang melempar balik gas air mata ke arah polisi.

Fenomena-feomena itu menunjukkan bahwa sepakbola berkelindan dengan peristiwa politik.

Akan tetapi, pada lingkup profesional, sepakbola justru berusaha dijauhkan dari permasalahan politik. Tentu yang paling kentara melalui slogan “Kick Politic Out of Football” yang sering digaungkan FIFA.

“Menghubungkan politik dengan olahraga itu mengerikan,” kata Ceca, Presiden klub Obilic, di buku Memahami Dunia Lewat Sepak Bola karya Franklin Foer. “Ini bisnis, permainan. Tidak lebih dari itu.”

Ceca, di sisi lain, pernah mendanai partai politik ultranasionalistik milik Arkan, suaminya. Dengan cara itu, ia menorehkan tinta pada sejarah politik ekstrimis di bawah rezim Milosevic yang dihancurkan—sebelumnya disokong—oleh kelompok hooligan Red Star.

Di belahan dunia lain, Gubernur Kalimantan Tengah ikut-ikutan melempar botol ke lapangan pada sebuah pertandingan Kalteng Putera FC di Liga 1 2019. Sebelumnya, klub berjuluk Laskar Iseng Mulan itu pun pernah menyematkan kampanye untuk seorang politisi di jersi mereka di  pertandingan turnamen pramusim, Piala Presiden 2019.

Sepakbola, alih-alih menjauhi, malah sering menjadi kendaraan para politisi ekstrimis dan alat kampanye jelang pemilihan umum. Menganggap sepakbola sekadar permainan, sebagaimana kata Ceca, tentu saja keliru.

Oleh karenanya, kesadaran politik menjadi perlu dalam permainan yang mendunia ini demi terciptanya suatu kontranarasi. FC Saint-Pauli di Jerman misalnya, telah menunjukkan sikap politik antifasisme. Sedangkan Bahia FC di Brasil, aktif menyuarakan dan memperjuangkan hak-hak kelompok tertindas bahkan hingga membentuk departemen khusus untuk melakukan kerja-kerja kemanusiaan tersebut.

Itu contoh kontranarasi yang bisa dilakukan oleh level klub. Sementara untuk suporter atau pencinta sepakbola, bermain sepakbola di tengah gelombang demonstrasi adalah salah satu cara merayakan dan menggaungkan perlawanan itu,[]

(Visited 66 times, 1 visits today)

Menulis puisi dan esai. Mahasiswa Filsafat dan Jakmania. Tinggal di Yogyakarta.

Post a Comment

You don't have permission to register