Sepakbola Tanpa Batas

Sepakbola hanya dimainkan oleh dua puluh dua pemain selama sembilan puluh menit (plus tambahan waktu) di lapangan. Namun, sebuah pertandingan sepakbola membutuhkan waktu lebih dari sembilan puluh menit untuk bisa benar-benar dimainkan. Begitu pula lapangan hanyalah fasilitas untuk sebuah permainan formal.

Sepakbola bisa dimainkan siapa saja (sendirian atau banyak orang), kapan saja, dan di mana saja. Sebab, banyak hal yang membuat sebuah permainan sepakbola bisa terwujud. Hal-hal itu adalah hal-hal yang tanpa batas.

Di masa yang sarat ketegangan seperti perang, revolusi, pemilu, sepakbola tak jarang menjadi oase yang memberikan kesejukan. Seperti yang terjadi di Sudan baru-baru ini, massa aksi pendemo Presiden berhenti sejenak untuk menyaksikan pertandingan perempatfinal Liga Champions antara Barcelona vs Manchester United.

Di sisi lain, sebuah pertandingan juga dapat melahirkan peperangan. Seperti pernah terjadi di Amerika Tengah, ketika El Salvador dan Honduras memperebutkan tempat untuk Piala Dunia 1970. Pada peristiwa perang sipil 1969 yang dikenang dengan “Perang 100 Jam” itu, 2.000 orang kehilangan nyawa dan lebih dari 100.000 orang lainnya menjadi pengungsi.

Atau, sebuah kisah paling klasik pada Hari Natal 1914. Tentara Inggris dan Jerman melakukan gencatan senjata sementara. Lantas mereka memainkan sepakbola di tanah tak bertuan untuk merayakan Natal bersama-sama. Pada momen tersebut sepakbola mempersatukan kedua kubu yang tengah sengit bertikai.

Di Pulau Robben, Afrika Selatan, lima orang tahanan politik yang berjuang melawan apartheid membuat sebuah kompetisi sepakbola untuk para tahanan. Tujuannya tak lain untuk menyediakan sarana hiburan di tengah suasana depresif yang mereka derita.

“Satu-satunya hal yang membuat kami tetap waras adalah keterkaitan dengan dunia luar seperti menyaksikan pertandingan sepakbola. Ini menegaskan betapa pentingnya sepakbola,” sebut salah satu penggagas kompetisi itu, Mark Skinners.

Sementara di Jerman, Januari 2018, para suporter Bayern Munchen menjadikan pertandingan sepakbola sebagai momentum untuk menyuarakan penderitaan para buruh migran yang dieksploitasi di Qatar. Mereka bahkan tak segan membentangkan spanduk perlawanan untuk Presiden klub Bayern, Karl-Heinz Rummenige, yang menyetujui kerjasama dengan Qatar Airways, perusahaan yang mempekerjakan para buruh migran tersebut.

Fakta-fakta tersebut menunjukkan bahwa sepakbola ternyata tak hanya sebatas permainan yang dibatasi waktu dan garis tepi lapangan. Ia menyentuh sekaligus berpengaruh terhadap pelbagai sendi kehidupan manusia, secara sosial, budaya, politik, dan ekonomi. Maka, pada hakikatnya sepakbola bukan sekadar nomina, melainkan verba tanpa batas.

Bagaimana jadinya jika sebuah pertandingan—kompetitif—tanpa penonton, tanpa sponsor, dan tanpa media yang memublikasikan, baik dalam bentuk siaran langsung maupun dalam berita. Terlebih sejak media sosial hadir dalam kehidupan manusia. Kehadirannya membuat sebuah pertandingan menjadi lebih menggairahkan.

Apalagi jika kita mengingat manusia-manusia yang terlibat dalam dunia sepakbola. Pemain, pelatih, wasit, manajer klub, presiden klub, suporter, jurnalis, dan banyak lagi. Mereka hidup dan menghidupi sepakbola.

Terutama untuk suporter dan jurnalis. Dua bagian dari sepakbola ini memiliki peran yang cukup penting untuk membuat sepakbola menjadi lebih seru. Tanpa dua elemen tersebut, sepakbola tak akan pernah bisa “dijual” dan menjadi industri besar seperti hari ini.

Manisnya kejayaan dan pahit getirnya kekalahan hanyalah sebuah seremoni dalam dunia sepakbola. Akan tetapi, seiring bergulirnya si kulit bundar—yang di masa lalu akrab disebut bal bliter—bergulir juga nasib banyak orang.

Di negeri ini, sebagian besar masyarakat sangat mencintai sepakbola. Stadion-stadion selalu dipenuhi suporter. Bahkan, pertandingan antar kampung pun selalu menjadi hiburan masyarakat di banyak daerah. Meski prestasi klub atau timnas tak selalu sesuai harapan, namun pecinta bola di negeri ini tak pernah kehilangan cintanya pada permainan yang menguras fisik dan emosi ini.

Selain keyakinan terhadap agama, barangkali klub sepakbola yang mampu membuat manusia di negeri ini menjadi pemeluk teguh. Sepakbola tak pernah lapuk dan mati, meski perang, krisis, bencana, skandal, suap, hingga pengkhianatan terhadap fair play, tulis Sindhunata yang mengutip kolumnis bola Walter Lutz.

Bermula dari gairah sebagai suporter dan kebebalan menjadi jurnalis partikelir, kami akan menyajikan beragam kisah inspiratif dari dunia sepakbola, khususnya Persib Bandung, di Balbliter.id. Setiap kisah akan ditulis dengan gaya bahasa khas dan sudut pandang tanpa batas. Mulai dari fakta dan peristiwa menarik dari sebuah pertandingan, cerita tentang sosok, hingga pelbagai kisah unik di luar lapangan.

Semoga kehadiran Balbliter.id dapat memberikan referensi baru bagi para pecinta sepakbola di mana saja. Meski fokus media ini pada Persib Bandung, namun sekali lagi, sepakbola tanpa batas. Sebab hidup adalah permainan sepakbola itu sendiri, kata sastrawan Britania Raya Sir Walter Scott dalam puisi “Football Song”.

Salam Baller![]

Foto: Musa Bin Hamdani

(Visited 163 times, 1 visits today)

Manajer Balbliter.id.

Post a Comment

You don't have permission to register