Sudah Waktunya Lionel Messi Angkat Kaki dari Barcelona

“Barcelona adalah Messi, Messi adalah Barcelona.” Begitu ucap bekas striker Barca, Samuel Eto’o. Saat membicarakan Barcelona, rasanya memang sulit tanpa menyebut nama Messi. Eto’o bahkan menyarankan Barcelona untuk berganti nama saja andai Messi hengkang.

Messi sangat identik dengan Barcelona. Pria asal Rosario, Argentina, itu telah membantu Barcelona menjadi tim besar berkat talenta magisnya mengolah si kulit bundar.

Messi sudah mencintai dunia sepakbola sejak belia. Kecintaannya kepada sepakbola sempat terganggu masalah kesehatan akibat kelainan hormon yang dideritanya.

Jika Barcelona tidak menanggung semua biaya pengobatan Messi saat itu, barangkali kita tidak akan pernah mendengar nama Lionel Andres Messi saat ini.

Tidak bisa dimungkiri kalau Messi mempunyai peran yang signifikan di Barcelona. Bagaimana tidak, ketajamannya dalam mencetak gol dan kelihaiannya mengecoh lawan, membuatnya bisa meraih berbagai gelar bersama Barcelona.

Lionel Messi telah mendapatkan segalanya di Barcelona. Mengapa ia tidak pergi saja? Menurut saya, karena utang budi.

Messi barangkali berpikir begini, jika Barcelona tidak menyelamatkan hidup dan mimpinya sebagai pesepakbola, mungkin ia masih di Rosario saat ini. Menjadi seorang biasa dengan segala keterbatasannya.

Akan tetapi, keinginan Messi untuk hengkang dari Barcelona—yang sebelumnya terasa mustahil—akhirnya benar-benar terjadi pada 25 Agustus 2020. Saya menilai, keinginannya untuk hengkang tak lepas dari kekisruhan di dalam tubuh Barcelona sejak tiga tahun terakhir.

Sudah banyak pergantian pemain di Barcelona selama kurun waktu tiga tahun belakangan. Bongkar pasang pemain yang dilakukan menyebabkan suasana ruang ganti Barcelona tidak stabil.

Terlebih sejak Neymar, sahabat Messi, memutuskan untuk pergi ke Paris Saint-Germain (PSG) pada 2017, Messi sudah tidak sebahagia sebelumnya di Barcelona. Teranyar, sahabatnya yang lain, Luis Suarez, juga berada dalam posisi tak aman di Barcelona. Suarez tak masuk ke dalam rencana Ronald Koeman untuk musim 2020/21.

Yang terburuk adalah ketika Quique Setien secara mendadak menjadi manajer Barcelona, dan pemberhentian mendadak Ernesto Valverde yang berujung kepada kerenggangan hubungan antara pemain dan pelatih. Permasalahan ini pun berujung  lepasnya gelar La Liga 2019/2020 ke tangan sang rival, Real Madrid.

Semua kekacauan ini, menurut saya, tidak akan terjadi apabila Presiden Klub Josep Maria Bartomeu tidak bertindak gegabah dan egois. Karena jelas sekali, dan mungkin banyak Cules yang setuju, Messi menjadi seperti sekarang karena Bartomeu hanya memikirkan uang dan bukan prestasi klub itu sendiri.

Kekalahan 8-2 dari Bayern Munchen di perempatfinal Liga Champions, merupakan penghinaan terbesar bagi Barcelona saat ini. Lebih parah dari ‘tragedi’ di Roma pada 2018, atau Liverpool pada 2019.

Rentetan permasalahan itu membuat Messi mesti memilih keputusan besar, sudah saatnya ia pergi dari rumah yang membesarkan dirinya. Messi sudah tidak punya alasan kuat lagi untuk bertahan di Barcelona, sudah waktunya Barcelona melangkah maju tanpa dirinya.

Mungkin ia tidak akan seperti Totti di AS Roma atau Giggs di Manchester United yang bertahan hingga pensiun. Tetapi, tidak buruk juga baginya untuk berpindah ke liga lain ataupun kembali bermain untuk klub masa kecilnya Newell’s Old Boys. Messi pun sadar akan hal itu, ia sudah tidak punya alasan untuk bersama Barcelona lagi.

Messi sadar, sudah waktunya tunas-tunas La Masia berkembang dan bahkan bisa melampaui angkatan Messi dan kawan-kawan. Jika ada satu lagu yang bisa menggambarkan dengan persis kisah perpisahan Messi dan Barcelona ini, maka itu haruslah lagu Niki Zefanya yang berjudul “Lose”. Setiap bait yang dibawakan sangat cocok dengan kisah ini. Seperti penggalan berikut, “I don’t need a reason, to keep on dreamin. That we don’t lose, what’s the use”.[]

(Visited 15 times, 1 visits today)

Hidup itu harus menganut prinsip gudetama, penganut kaum rebahan yang apatis

Post a Comment

You don't have permission to register