Surat untuk El Diego

Diego Armando Maradona Franco, aku akan menyebutmu dengan sebutan paling terhormat bagimu dalam surat ini. El Diego.

Kisah gol “Tangan Tuhan” yang kau ciptakan pada Piala Dunia Mexico 1986 barangkali akan menjadi dongeng realisme magis abadi dari lapangan sepakbola sebagaimana novel Seratus Tahun Kesunyian karya Gabriel Garcia Marquez.

Apa yang kau pikirkan ketika melompat, lalu tangan kirimu menyentuh bola sebelum Peter Shilton berhasil menangkapnya? Kau sedang membuat sejarah saat itu. Kisah realisme magis yang kau wariskan kepada dunia sepakbola.

Kini kau, El Diego, akan bertemu dengan Tuhan yang kau cintai. Sekalipun kau seorang sosialis, tapi kau tak pernah luput membuat tanda salib kala memasuki lapangan atau setelah menciptakan gol sebagai simbol keyakinan juga barangkali rasa syukurmu.

Kaki kidalmu yang lincah saat menggiring bola telah menyelamatkanmu dari kehidupan di permukiman kumuh Villa Fiorito. Kaki kidalmu yang tangguh telah menapak dua final Piala Dunia. Pertama di Mexico City (1986), kau berhasil memenangkannya dengan gemilang. Kedua, di Roma (1990), meski tak juara, kau tetap seorang dewa yang dipuja.

Kini kakimu akan menapaki anak-anak tangga menuju surga, El Diego.

Semua pencinta sepakbola, seperti aku, tentu saja bersedih atas kepergianmu, El Diego. Orang-orang di Argentina sudah pasti akan menangisimu berhari-hari. Mereka pasti merasa seolah kehilangan Paus. Bukankah kau memiliki umat yang menyembahmu layaknya Yesus di sana?

Tapi, bisa jadi, orang-orang di Napoli menjadi yang paling berduka. Di kota yang dilindungi Gunung Vesuvius itu, kau bukan hanya berhasil memberikan gelar juara bagi SSC Napoli, tetapi juga mengangkat martabat klub asal Italia selatan yang selalu berada di bawah bayang-bayang kedigdayaan klub-klub dari utara.

Bahkan kau tak sekadar mengangkat martabat Il Pertenopei. Kau juga memberi berkat untuk seluruh warga Napoli. Seorang warga pernah bersaksi bahwa masalah tunawisma, pendidikan, transportasi, dan sanitasi di Napoli menjadi tak berarti karena kehadiranmu, El Diego.

Berpuluh-puluh tahun setelah kau meninggalkan Napoli, mereka tak pernah berhenti membicarakan dirimu. Di kedai-kedai kopi, di bar, di stadion, di mana saja. Mungkin, kepergianmu bisa lebih menyayat hati mereka ketimbang ditinggalkan Paus.

Walau, sebagai pemain sepakbola, kau tak “sesuci” Pele. Justru lika-liku pesebakbola “kotor” yang kau lalui itulah yang membuat aku mencintaimu. Semua cerita tentangmu baik dari dalam maupun dari luar lapangan hijau, menunjukkan sisi humanis seorang manusia yang sama-sama rapuh seperti orang-orang kebanyakan yang hidup di bumi ini.

Kesenangan dunia membuatmu berkali-kali berhadap-hadapan dengan masalah. Sebuah masalah yang mungkin melebihi bek tangguh mana pun yang mudah saja kau gocek. Tapi, kau selalu kembali dengan senyum dan optimisme. Kau selalu kembali menghadapi dunia yang tak jarang mencemoohmu.

Kepada dunia yang tak menyukaimu, barangkali kau cukup menunjukkan jari tengah, seperti sebuah foto ikonik dirimu di tribun VIP La Bombonera.

O, Diego, realitas hidup, apalagi dalam dunia sepakbola, memang absurd. Tapi tak jarang pula memberikan magisnya kepada manusia.

Selamat jalan, El Diego. Beristirahatlah dalam damai. Kini kau kak perlu lagi gelisah dengan sepakbola.

Hasta siempre bravo![]

(Visited 103 times, 1 visits today)

Manajer Balbliter.id.

Post a Comment

You don't have permission to register